RADARSOLO.COM - Lukisan tidak hanya sekadar keindahan seni, namun juga memiliki cerita dan filosofi. Seperti halnya puluhan hasil karya seniman dari berbagai daerah yang disuguhkan pameran seni nusantara ini.
Langit cerah di atas Taman Budaya Jawa Tengah (TBTJ) seolah menyambut para pengunjung yang antusias menghadiri pameran seni rupa nasional Guyub Rukun Seni Nusantara #3.
Di tengah hiruk-pikuk kota, galeri ini menawarkan pelarian yang berbeda, membawa setiap pengunjung pada perjalanan batin melalui karya seni bertajuk Mbangun Svarga Rupa.
Seketika melangkah ke dalam galeri, pengunjung langsung disambut oleh kanvas besar yang tak biasa. Kanvas ini bukan hanya dihiasi coretan cat, tetapi juga puluhan cap tangan dan tanda tangan seniman serta pengunjung.
“Kanvas ini seperti saksi bisu dari kebersamaan kami dalam membangun surga seni. Kami mengajak pengunjung ikut serta dalam proses kreatif ini,” jelas Hesti Novera, salah satu panitia pameran.
Salah satu pengunjung, Elfi Nisa tampak terkesima saat melihat karya-karya yang dipajang.
“Ini seperti menghidupkan jiwa saya. Setiap lukisan punya cerita, tapi kita sebagai penikmat bebas menafsirkan artinya,” ujarnya sambil menunjuk salah satu karya abstrak yang penuh warna.
Setiap sudut galeri menyimpan kisah tersendiri. Tema Mbangun Svarga Rupa, menurut kurator pameran, adalah tentang membangun surga—baik secara fisik maupun batin—melalui karya seni.
Filosofi Svarga yang dalam beberapa daerah disebut sawarga atau suruga, menjadi dasar dari penciptaan karya yang tidak hanya dilihat dari sisi estetika, tetapi juga makna spiritual di baliknya.
Di pameran ini, para pengunjung diajak untuk lebih dari sekadar menikmati visual. Setiap karya seakan berbicara melalui warnanya, bentuknya, dan teknik yang digunakan.
Pengalaman ini dirasakan oleh Rian Ardianto, seorang mahasiswa di lokasi pameran.
"Setiap kali saya melihat sebuah lukisan di sini, saya merasa terhubung dengan cerita yang diusung senimannya. Ini lebih dari sekadar melihat gambar, ini tentang merasakan apa yang mereka rasakan," ujarnya penuh semangat.
Pameran ini memamerkan lebih dari 120 karya dari seniman di 22 provinsi, dengan dua gaya besar yang ditampilkan: realisme dan abstraksi. Di satu sisi, pengunjung bisa menikmati realisme sosial yang menggambarkan kehidupan sehari-hari dengan detail yang menakjubkan. Di sisi lain, ada karya-karya abstrak yang memancing imajinasi pengunjung, dengan perpaduan warna dan bentuk yang kaya akan interpretasi.
“Banyak karya yang terlihat sederhana, namun menyimpan pesan moral yang dalam. Misalnya, ada lukisan daun dengan wajah tersembunyi di dalamnya. Itu adalah cara seniman mengomunikasikan pesan kepada penonton tanpa harus berkata-kata,” tambah Hesti Novera.
Salah satu tujuan besar dari pameran ini adalah untuk memperkuat hubungan antara seniman dan masyarakat.
"Kami ingin masyarakat lebih dekat dengan seni rupa, agar mereka bisa lebih menghargai proses kreatif yang dilalui para seniman," ujar Hesti.
Pameran seperti ini menjadi jembatan untuk mendekatkan publik dengan dunia seni yang terkadang terasa eksklusif.
Di akhir kunjungan, para pengunjung tidak hanya membawa pulang ingatan tentang keindahan karya seni, tetapi juga sebuah refleksi baru tentang apa arti "surga" dalam kehidupan. Pameran ini bukan hanya ruang pamer karya, tetapi juga ruang untuk memahami kehidupan dan cita-cita melalui seni. (*/bun)
Editor : Kabun Triyatno