Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Alexandra Calista, Atlet asal Solo Torehkan Sejarah Emas Wushu di PON XXI: Menikmati Gemblengan Langsung Ratu Wushu Lindswell Kwok

Mannisa Elfira • Jumat, 20 September 2024 | 04:06 WIB
Alexandra Calista (kanan) besama ratu wushu Lindswell Kwok
Alexandra Calista (kanan) besama ratu wushu Lindswell Kwok

RADARSOLO.COM - Alexandra Calista di PON XXI 2024 Aceh-Sumut memberikan kado istimewa untuk Jawa Tengah. Setelah puasa emas selama 20 tahun, akhirnya atlet asal Solo ini pecah telur. Perjuangan dia sangat berliku.

Di tengah sorak-sorai penonton dan aura persaingan yang terasa menegangkan, Alexandra Calista—atau akrab disapa Tata—melangkah ke tengah arena PON XXI 2024 Aceh-Sumut.

Gadis berusia 23 tahun asal Kota Solo ini tampak begitu tenang, namun tatapan matanya mengisyaratkan tekad yang kuat. Dengan elegan, dia mengayunkan pedangnya, meluncur dengan gerakan penuh keyakinan.

Setiap jurus yang diperagakan bukan hanya sekadar teknik; ada emosi, ketekunan, dan semangat yang tersalurkan di setiap gerakannya.

Momen tersebut menjadi titik balik bagi wushu Jawa Tengah. Setelah 20 tahun menanti, emas di nomor taolu akhirnya kembali. Tata, dengan kebasan pedangnya yang memukau, berhasil meraih skor akhir 9.626. Kemenangan ini terasa manis, karena Tata mampu mengungguli pesaing berat dari DKI Jakarta dan Jawa Timur.

"Bersyukur sekali. Senang, bangga, semua jadi satu," ungkap Tata sambil tersenyum bahagia.

Namun, di balik kemenangan itu, tersimpan perjalanan panjang penuh latihan dan pengorbanan. Venue megah yang menjadi saksi keberhasilannya juga menyimpan ketegangan. Setiap sudut arena terasa berdebar seiring dengan langkah Tata yang semakin dekat dengan podium juara.

"Persaingan di nomor taiji memang ketat. Kami mempersiapkan diri sejak lama, bahkan melakukan simulasi pertandingan dengan juri daerah dan nasional," cerita Tata, mengingat kembali perjuangan berat yang harus dilaluinya.

Untuk mencapai puncak penampilannya, Tata dan rekan-rekannya bahkan melakukan tryout ke Jakarta. Di sana, mereka berlatih bersama Lindswell Kwok, atlet wushu legendaris Indonesia yang sejak kecil menjadi panutan Tata.

"Super senang, karena dari kecil saya mengidolakan Lindswell Kwok. Gerakannya bagus banget," ujar Tata dengan antusias.

Latihan intensif bersama sang idola memberikan Tata energi baru dan pelajaran berharga. "Lindswell bilang, waktu lomba main yang tenang dan dibawa enjoy aja. Fokus pada gerakan, bukan pada kegagalan yang mungkin terjadi saat pemanasan," sambung Tata, mengingat nasihat yang kini tertanam kuat dalam dirinya.

Kisah Tata menggeluti dunia wushu sebenarnya cukup unik. Ia mulai berlatih sejak kelas IV SD, awalnya hanya karena menemani sang adik yang tertarik dengan wushu.

"Awal-awal latihan itu terpaksa. Tapi lama-lama jadi suka banget sampai sekarang," kenangnya.

Perjalanan yang dimulai dengan setengah hati itu kini menjelma menjadi cinta dan dedikasi penuh. Meski perjalanan wushu Tata tampak gemilang, tantangan tetap ada. Rasa jenuh kerap kali menjadi hambatan. Namun, Tata punya cara sendiri untuk melewatinya.

"Kalau hari biasa, kadang saya streaming film atau series. Kadang juga main game bareng teman-teman. Kalau pas ada hari libur, sebisa mungkin main ke luar kalau tidak capek," ujarnya santai.

Inilah cara Tata menyeimbangkan hidupnya, menjaga semangat tetap menyala di tengah jadwal latihan yang padat.

Ada satu hal yang menjadi kunci keunggulan Tata di arena wushu: kemampuan memasukkan perasaan ke setiap gerakan taiji. Untuk ini, ia bahkan rela menambah latihan di luar jadwal yang sudah ketat.

"Menyelaraskan gerakan dari kepala, pundak, tangan, pinggang, kaki, benar-benar harus disadari dan dirasain," kata Tata, menjelaskan bagaimana ia mendalami setiap gerakan, bukan hanya sebagai rutinitas, tapi sebagai bentuk ekspresi diri.

Kini, emas PON ada di genggamannya, dan kebanggaan itu bukan hanya milik Tata, tetapi juga milik Jawa Tengah. Kegigihannya adalah inspirasi bagi banyak orang, bahwa dalam setiap ayunan pedang dan setiap gerakan wushu, tersimpan kisah perjuangan yang tak terlihat. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#PON XXI Aceh - Sumut #Alexandra Calista #jawa tengah #kota solo