RADARSOLO.COM - Limbah dapur yang melimpah memantik sejumlah siswa SMP Islam Diponegoro di Kota Solo ini memiliki ide kreatif. Mereka mengolahnya menjadi sabun ecoenzym. Pagi itu, Hall Terminal Tirtonadi Solo dipenuhi riuh rendah suara pengunjung yang datang dari berbagai penjuru kota. Di tengah suasana tersebut, sebuah stan sederhana tampak ramai dikerumuni.
Di balik meja pameran, sekelompok siswa dari salah satu SMP swasta di Kota Solo dengan bangga memperkenalkan produk inovasi mereka: sabun ecoenzym yang terbuat dari limbah organik.
Bau harum menyegarkan yang keluar dari produk-produk sabun tersebut seolah tidak mencerminkan asal-usulnya yang terbuat dari limbah dapur. Pengunjung yang lewat berhenti sejenak, takjub dan penasaran, ingin tahu bagaimana sampah yang biasanya diabaikan dapat diolah menjadi sesuatu yang begitu bermanfaat.
"Sabun ini berasal dari fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran," ujar Wahyu Putri Lestari, guru pembimbing yang mendampingi para siswa dengan senyum bangga.
Wahyu menjelaskan bagaimana anak-anak didiknya mengumpulkan limbah dapur dari rumah masing-masing, lalu memprosesnya selama 90 hari hingga menghasilkan ecoenzym, zat organik yang berkhasiat.
Setiap pagi di sekolah, sebelum jam pelajaran dimulai, para siswa sudah terlihat sibuk. Dengan kantong-kantong berisi limbah organik dari dapur rumah mereka, mereka berkumpul di pojok halaman sekolah.
Di sana, galon-galon besar yang telah mereka siapkan sejak tiga bulan lalu penuh berisi campuran kulit buah, air, dan gula.
"Aromanya memang sedikit asam saat masih dalam proses fermentasi," ujar salah satu siswa sambil tersenyum, mengaduk-aduk campuran di dalam galon.
Setelah 90 hari, campuran itu akan berubah menjadi cairan cokelat dengan aroma segar yang siap dijadikan sabun.
Di ruang kelas yang disulap menjadi 'laboratorium kecil', para siswa secara bergantian memantau proses fermentasi. Mereka mengecek apakah fermentasi berlangsung dengan baik tanpa udara dan memastikan sampah yang digunakan tetap bersih. Suasana kerja sama ini menciptakan semangat tersendiri di antara mereka.
“Setelah melalui proses panjang, hasil fermentasi ini kita ekstraksi menjadi sabun. Tidak hanya digunakan untuk cuci tangan, tapi juga bisa dipakai untuk membersihkan lantai dan mencuci piring,” jelas Wahyu sembari mengajak para siswa untuk mempraktikkan cara mengolah ecoenzym menjadi sabun cuci tangan.
Di tengah-tengah krisis sampah yang kian menggunung, terutama di kawasan perkotaan seperti Solo, inovasi sabun ecoenzym karya siswa ini menjadi angin segar. Kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah tidak hanya dipelajari di atas kertas, tetapi langsung dipraktikkan di lapangan. Pengunjung di pameran karya siswa pun tampak antusias mencoba produk ramah lingkungan tersebut.
Mata para siswa berbinar ketika salah satu pengunjung, seorang ibu rumah tangga, dengan tertarik membeli beberapa botol sabun ecoenzym.
“Ini bisa menginspirasi banyak orang untuk lebih peduli pada lingkungan. Sabunnya juga wangi dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya,” ujar ibu tersebut setelah mencoba sabun di tangan.
Kebanggaan tak terbendung di wajah para siswa. Dari hanya sekadar proyek sekolah, kini mereka merasakan bahwa hasil kerja keras mereka mendapatkan apresiasi nyata dari masyarakat. Meski sederhana, inovasi ini mengandung makna mendalam, tentang bagaimana generasi muda bisa menjadi solusi untuk tantangan lingkungan.
Inovasi sabun ecoenzym ini bukan sekadar tentang produk, melainkan gerakan kecil dari para siswa untuk menjaga kelestarian lingkungan. Setiap tiga bulan, limbah-limbah yang dikumpulkan dari rumah mereka diolah menjadi produk bernilai guna. Perlahan tapi pasti, mereka membuktikan bahwa dari hal-hal kecil, perubahan besar bisa dimulai.
“Kami berharap, inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” kata Wahyu.
Para siswa pun tersenyum bangga, menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tak hanya bermanfaat bagi sekolah, tapi juga bagi dunia yang lebih luas.(*/bun)
Editor : Kabun Triyatno