Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Cerita di Balik Pembuatan 20 Wayang Raksasa Setinggi 3 Meter di Colomadu Karanganyar untuk Paralimpiade Indonesia

Antonius Christian • Senin, 30 September 2024 | 05:17 WIB

 

Heri Novanto sedang menyelesaikan wayang raksasa di workshopnya di Colomadul Karanganyar. (Arief Budiman/Radar Solo)
Heri Novanto sedang menyelesaikan wayang raksasa di workshopnya di Colomadul Karanganyar. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Membuat karya wayang raksasa atau giant puppet di event olahraga nasional dalam waktu singkat bukan hal mudah. Namun, Heri Novanto menganggap ini sebagai sebuah tantangan yang harus diselesaikan.

Denting alat-alat kerja terdengar riuh di sudut kecil Desa Klodran, Kecamatan Colomadu. Di antara ratusan bengkel rumahan yang tersebar di desa itu, ada satu yang istimewa.

Workshop milik Heri Novanto dan timnya tengah dikejar waktu untuk menyelesaikan proyek besar yang penuh tantangan—membuat 20 wayang raksasa setinggi tiga meter yang akan menjadi pusat perhatian pada penutupan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024 di Solo.

Siang itu, hawa panas terasa menyengat di ruangan penuh rangka besi dan potongan bahan spon EVA. Namun, lima pasang tangan tetap bekerja gesit, mengukir, dan membentuk setiap bagian wayang raksasa.

 "Waktu yang kami miliki sangat terbatas, jadi semuanya harus dikebut. Sekarang baru jadi rangka dan sebagian kepala. Kami harus lembur setiap malam agar selesai tepat waktu," ungkap Heri, dengan nada tegas dan penuh semangat.

Pesanan yang datang ini bukan sembarang orderan. Giant puppet yang akan mereka buat bukan hanya sekadar properti pertunjukan, melainkan simbol perjuangan dan apresiasi bagi para atlet difabel yang akan tampil di Peparnas.

Lebih dari itu, wayang-wayang raksasa tersebut akan dimainkan oleh penari-penari difabel daksa, yang bergerak di atas kursi roda dengan irama dan gerakan yang terlatih.

Heri bercerita, dia mendapatkan kepercayaan ini dari Eko ‘Pece’ Supriyanto, koreografer ternama asal Solo. Hubungan kerja mereka sudah terjalin sejak 2007, bermula dari proyek-proyek kecil hingga sekarang menjadi partner utama dalam berbagai event besar.

"Eko selalu mempercayakan produksi wayang ini pada kami karena dia sudah paham betul kualitas yang kami tawarkan. Bahkan, untuk acara besar seperti Dekranas, kami dilibatkan membuat 60 wayang dan dua mobil hias dalam waktu kurang dari sebulan," kata Heri bangga.

Namun, untuk Peparnas kali ini, tantangannya jauh lebih berat. Selain jumlah yang besar, konsep wayang raksasa tersebut juga harus menggabungkan unsur tradisional dan modern.

Mengusung tema Wayang Panji dan Wayang Purwo yang dikemas dengan gaya manga, Heri dan tim harus memadukan karakter lokal seperti Anoman, Sumantri, Gatotkaca, dan Kebo Kiai Slamet dengan estetika khas superhero internasional.

“Membuat karakter tradisional menjadi lebih modern dan menarik itu memang tidak mudah. Tantangan terbesarnya adalah waktu. Kami harus menuntaskan 20 wayang ini dalam dua minggu. Bayangkan, satu wayang saja tingginya tiga meter dan terdiri dari berbagai detail rumit,” ungkapnya.

Proses pembuatannya pun tak kalah rumit. Rangka wayang terbuat dari besi untuk memastikan kekuatan dan stabilitas, sementara bagian luarnya dibentuk dengan spons EVA, kain, dan limbah plastik. Semua material tersebut dipilih dengan cermat agar wayang ini tetap ringan namun kokoh ketika dimainkan.

"Kami gunakan cat tembok untuk pengecatan, agar warnanya lebih tegas dan karakter wayangnya terlihat hidup," tambah Heri.

Suasana di workshop Klodran siang itu seolah menggambarkan perjuangan yang lebih besar. Bukan sekadar Heri dan timnya yang berpacu dengan waktu, tetapi juga semangat para atlet difabel yang siap berlaga di Peparnas 2024. Wayang-wayang raksasa tersebut akan menjadi simbol bahwa kreativitas dan semangat tak mengenal batas.

“Para penari yang akan memainkan wayang ini adalah difabel daksa. Jadi, kami harus memastikan rangkanya bisa dipasang di kursi roda dengan aman. Tentu ada penyesuaian dan perhatian ekstra dalam setiap detailnya. Kami ingin mereka tampil maksimal di acara penutupan nanti,” ujar Heri dengan mata berbinar, membayangkan hasil akhir yang akan menjadi kebanggaan bersama. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#karanganyar #raksasa #paralimpiade #wayang