RADARSOLO.COM - Di sebuah sudut stand UMKM di kawasan Taman Balekambang Solo, Anastasia Kartika Santati tampak sibuk di balik alat tenunnya. Jari-jarinya dengan lincah memilih benang demi benang, menciptakan motif yang indah dari perpaduan warna-warni.
Suara gesekan bilah plastik yang maju mundur menjadi irama tersendiri, mengiringi proses kreatif yang terlihat begitu alami bagi Anastasia.
Sesekali, ia memajukan bilah-bilah plastik yang terselip di antara helaian benang, kemudian memundurkannya dengan gerakan halus. Tak lama, motif kain yang cantik mulai terbentuk.
"Untuk tenun kartu, mesinnya memang ada di kartu ini," jelas Anastasia sambil tersenyum ramah, menunjukkan kartu-kartu kecil yang menjadi kunci dalam proses menenun tersebut.
Proses menenun yang dikerjakan Anastasia tidak jauh berbeda dengan tenun tradisional pada umumnya, di mana terdapat benang lungsin dan benang pakan. Benang lungsin adalah benang yang dipasang memanjang, sementara benang pakan diselipkan di antara benang lungsin untuk membentuk motif.
Namun, yang membedakan tenun Anastasia adalah penggunaan kartu-kartu kecil yang disematkan pada benang. Lubang-lubang kecil di sudut kartu tersebut memungkinkan benang untuk membentuk pola tertentu ketika kartu-kartu itu digerakkan.
"Motif yang terbentuk tergantung pada cara kita menggerakkan kartu-kartu ini," tambahnya, sambil terus memintal benang.
Kisah Anastasia dalam dunia tenun dimulai dari rasa penasaran. Suaminya adalah seorang penenun, sedangkan ia awalnya lebih berfokus pada dunia rajut. Melihat potensi besar dalam penggabungan antara tenunan dan rajutan, Anastasia mulai mencoba menenun pada 2019.
Belajar secara otodidak melalui buku dan referensi daring, ia semakin mahir menciptakan motif unik dan menyesuaikan kebutuhan benang untuk setiap proyek yang ia kerjakan.
"Sebenarnya menenun ini sangat matematis. Kita harus menghitung berapa kali maju dan berapa kali mundur untuk menciptakan motif yang sesuai," ujarnya dengan antusias.
Anastasia kemudian mulai membuat alat tenunnya sendiri, setelah beberapa kali percobaan yang gagal. "Bikin alat ini tidak mudah, saya coba sampai lima kali sebelum akhirnya berhasil," kenangnya.
Sekarang, dengan alat tenun yang dibuatnya sendiri, Anastasia mampu menciptakan berbagai motif menarik yang ia gabungkan dengan tas rajut buatannya.
Ketekunan dan kegigihan Anastasia dalam belajar dan berinovasi telah membawa hasil. Dari sekadar ingin mencoba, kini tenunan Anastasia telah menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. "Dari helaian benang, saya bisa mendapatkan cuan," ujarnya sambil tertawa ringan, mengakhiri obrolan dengan penuh kepuasan. (*/bun)
Editor : Kabun Triyatno