Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Wayang Babad Kartasura, Menghidupkan Kembali Sejarah Mataram

Fauziah Akmal • Selasa, 29 Oktober 2024 | 03:53 WIB
Launching Wayang Babad Kartasura yang digagas KRT Djuyamto Rekso Pradoto. (Fauziah Akmal/Radar Solo)
Launching Wayang Babad Kartasura yang digagas KRT Djuyamto Rekso Pradoto. (Fauziah Akmal/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Keraton Kartasura sempat menjadi pusat Kerajaan Mataram Islam. Sejarah ini kembali dimunculkan kembali dalam bentuk kesenian tradisional wayang kulit. Berkolaborasi dengan seniman dan akademisi, KRT Djuyamto Rekso Pradoto menciptakan Wayang Babad Kartasura

Ide ini berawal dari pengalaman spiritual Djuyamto pada suatu malam di bulan Agustus 2017. Saat itu, bersama Banser Kartasura, dia tengah membersihkan Keraton Kartasura yang lama terbengkalai untuk persiapan upacara peringatan kemerdekaan Indonesia.

“Ketika selesai gladi resik sekira pukul 24.00, saya pulang dan merasa seolah ada bisikan, 'Mbok kono diopeni' (jagalah itu),” kenangnya.

Panggilan batin ini kemudian mendorong Djuyamto untuk merawat dan membangkitkan kembali nilai-nilai sejarah Keraton Kartasura. Dari kawasan keraton yang penuh ilalang tinggi, dia mengubahnya menjadi ruang publik yang sarat dengan nilai budaya.

Namun, Djuyamto tidak berhenti di sana. Dia merasa bahwa sejarah Kartasura layak dikenal kembali, bukan hanya melalui literatur kolonial, tetapi dalam bentuk kesenian otentik versi lokal.

Djuyamto akhirnya bekerja sama dengan seniman dan akademisi menciptakan Wayang Babad Kartasura. Prosesnya dimulai dari pengumpulan sumber sejarah, baik dari babad Kartasura maupun sumber VOC.

“Wayang ini tidak perlu terlalu kaku dengan sejarah yang akurat. Kita juga menambahkan elemen kreatif, seperti tokoh-tokoh yang menggunakan pistol ala koboy,” kata Satrio Dwicahyo, peneliti sejarah dari UGM.

Proses kreatif melibatkan dalang Ki Tulus Raharjo dan Ki Wahyu Dunung Raharjo, yang bersama tim seni Gubug Wayang Gamelan menciptakan 76 tokoh dalam wayang tersebut.

Lima lakon utama yang diangkat antara lain Amangkurat II, Untung Suropati, Kapten Francois Tack, Pakubuwana II, dan RM Garendi. Setiap tokoh memiliki karakter dan simbol yang kuat, yang ditampilkan melalui motif wayang yang dikerjakan dengan detail.

Proses pengerjaan wayang memakan waktu hingga tiga bulan, melibatkan seniman pemahat kulit kerbau untuk membuat tokoh-tokoh yang akan menghiasi lakon Babad Kartasura.

Selain latar belakang spiritual, proyek ini juga menjadi reaksi Djuyamto terhadap pandangan yang menyebut bahwa wayang haram. Menurutnya, jika pandangan ini dibiarkan, identitas budaya bangsa akan terkikis.

“Wayang adalah jati diri bangsa kita,” tegasnya. Melalui Wayang Babad Kartasura, Djuyamto berharap generasi muda dapat mengenal sejarah dan belajar tentang nilai-nilai yang diusung Kartasura.

Pementasan perdana Wayang Babad Kartasura akan digelar di Keraton Kartasura pada Sabtu, 2 November. Pertunjukan ini diharapkan bisa menjadi wahana baru bagi para penikmat seni dan masyarakat untuk kembali mengenal sejarah Kartasura dengan cara yang lebih hidup dan autentik. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Kerajaan Mataram Islam #wayang babad kartasura #sejarah