RADARSOLO.COM - Di tengah derasnya arus teknologi yang membawa anak-anak pada permainan digital, Budi Santoso berupaya menghidupkan kembali pesona mainan tradisional.
Di stand UMKM Ngarsopuro, Budi terlihat sibuk menata berbagai mainan jadul seperti gasing, pistol-pistolan, pluit, dan mainan karyanya sendiri, pitik nuthul, yang semuanya berbahan kayu. Pitik nuthul, sebuah mainan berbentuk ayam yang bergerak seperti sedang mematuk makanan, menjadi salah satu andalannya.
“Kalau bandulnya diputar, ayam-ayam ini terlihat seperti mematuk,” jelas Budi, penuh semangat.
Budi membuat mainan ini untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak Gen Alpha, yang kini lebih akrab dengan gadget.
“Awalnya anak-anak saya juga kecanduan HP, jadi saya buatkan mainan yang lebih interaktif dan kreatif,” tambahnya.
Budi mengawali usahanya dengan membuat rebab sederhana dari tanah liat dan kertas semen bekas. Seiring waktu, dia menemukan inspirasi melalui video-video mainan tradisional dari berbagai negara.
“Saya lihat mainan ini ada di Indonesia, Tiongkok, bahkan Eropa. Saya buat pola ayam dari triplek, lalu dirangkai dengan tali dan bandul,” paparnya.
Proses pembuatan yang awalnya menggunakan gergaji kini lebih cepat berkat pemotongan laser, yang membuat hasilnya lebih rapi. Setelah mainan selesai dirakit, Budi menambahkan sentuhan akhir dengan melukis motif bunga, meski ada juga pelanggan yang memesan versi polos dengan lapisan pernis.
"Kebanyakan memang anak-anak suka, tapi ternyata yang beli justru banyak orang dewasa. Mungkin ingin nostalgia dengan mainan masa kecil mereka," ujar Budi.
Sejak setahun berjualan, Budi tak hanya mendapat penghasilan, tetapi juga pesanan dalam jumlah besar.
“Ada yang pesan sampai 100 mainan. Kadang bentuknya diganti, misalnya jadi pak tani sedang mencangkul,” ungkapnya.
Dia tidak keberatan jika ada orang lain yang ikut menjualkan mainannya, karena bagi Budi, misinya lebih dari sekadar bisnis: ia ingin menghidupkan kembali mainan tradisional Indonesia.
“Harapannya, anak-anak bisa lepas dari gadget dan bermain dengan cara yang lebih kreatif dan bersama teman-teman. Mainan jadul ini sebenarnya tidak kalah seru,” tuturnya penuh harap. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno