RADARSOLO.COM - Semakin hari, minat baca masyarakat, khususnya anak-anak semakin menurun. Bila ini diteruskan, tidak menutup kemungkinan buku malah menjadi barang pajangan. Padahal buku merupakan gudang ilmu.
Gelisah. Nah, itulah yang medasari terbentuknya komunitas Sentra Transformasi Peradaban (Transid). Komunitas ini terus berupaya agar minat baca masyarakat Solo meningkat. Salah satunya dengan membuka 10 titik rumah baca yang tersebar di penjuru Kota Bengawan.
Sepuluh lokasi rumah baca itu di antaranya Rumah Baca Keprabon, Taman Pustaka Al Hikmah Semanggi, Taman Pustaka Banyuanyar, Taman Pustaka Pajang, dan Taman Pustaka Pajang Utara. Selanjutnya, Rumah Baca Serasi (Serengan Ramah Literasi), Rumah Baca Sriwedari, Taman Pustaka Jebres, Rumah Baca Sumber, dan Taman Pustaka Nusukan.
“Rumah baca yang kami resmikan itu secara harfiah akan diartikan sebagai rumah tempat membaca. Namun dalam pelaksanaannya rumah baca ini lebih dari sekadar itu, yang dituangkan melalui dua program," tutur Mohammad Hasan, founder Transid.
Program pertama adalah Transid Mendidik. Di rumah baca itu ada kegiatan mendampingi anak-anak untuk belajar beragam mata pelajaran di sekolahnya.
“Pada program ini, semacam les tambahan bagi anak-anak sekolah yang ada di sekitar rumah baca,” tambahnya.
Program kedua Transid Advokasi. Mengajak anak-anak untuk merancang program yang sesuai dengan permasalahan yang ada disekitar sehingga benar-benar dirasakan dan menjawab permasalahan yang ada.
“Melalui program ini kami mendorong anak untuk sadar akan lingkungan sekitar mereka untuk kemudian mereka berkontribusi positif atas lingkungan, termasuk perihal kesehatan, sampah, pangan, dan sebagainya,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, rumah baca itu akan menggandeng para sukarelawan untuk menjalankan program-program yang ada. Adapun para sukarelawan itu nantinya akan terdiri dari para mahasiswa dan pelajar dengan masing-masing lima orang di tiap rumah baca.
“Setiap rumah baca ada jadwalnya masing-masing yang harinya berbeda, tapi waktunya sama yaitu mulai pukul 17.30 sampai 20.00,” kata dia.
Saat ditanya alasan dari pendirian 10 rumah baca itu, Hassan menjelaskan, itu berangkat dari keresahannya dan teman-temannya yang tergabung di Transid. Di mana dalam kondisi saat ini, menurut dia, anak-anak lebih sibuk dengan gadget dan kerap tidak peduli dengan lingkungan.
Selain itu, rumah baca ini bisa dijadikan wadah bagi mahasiswa dan pelajar untuk mengimplementasikan serta menyalurkan ilmu mereka ke masyarakat khususnya anak-anak di sekitar.
“Untuk saat ini fokus kami adalah ke anak-anak, tapi tidak menutup kemungkinan nantinya akan menyasar ke remaja dan orang tua,” kata dia.
"Sehingga 10 sampai 15 tahun kedepan, membaca ini bukan lagi suatu kewajiban namun lebih pada kebutuhan. Kemudian para anak yang sekarang datang ini kedepan bisa jadi penggerak juga. Menularkan membaca ini kepada lingkungannya," sambung Hassan. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno