RADARSOLO.COM - Semangat belajar tak mengenal usia. Seperti para perias tata kecantikan dan salon dari berbagai usia ini terus memperdalam keterampilan lebih dalam di dunia kecantikan, meski sebagian sudah berusia lansia.
Suasana Aula SMKN 4 Solo pada Rabu siang itu dipenuhi oleh deru gunting rambut dan tawa riang. Puluhan perias tata kecantikan dari berbagai usia, kebanyakan lansia, bersemangat mengikuti workshop hair cutting dan hairstyling yang dihelat oleh Tiara Kusuma Solo.
Di tengah aula yang ramai, para peserta tampak tak lelah menyimak dan mempraktikkan teknik baru yang diajarkan oleh dua ahli tata rambut internasional, Fourlen Diana dan Anda Arrusa.
Sejak pagi, para perias yang tergabung dalam komunitas Tiara Kusuma Solo sudah memadati aula. Dengan alat-alat rias dan gunting di tangan, mereka siap belajar teknik terbaru untuk menyegarkan kemampuan di dunia kecantikan. Meski rata-rata berusia di atas 50 tahun, semangat mereka tak kalah dengan para pemula yang lebih muda.
Di atas panggung, Fourlen Diana, seorang profesional hair stylist sekaligus ketua umum Tiara Kusuma dengan luwes memperagakan teknik layering dan volume rambut yang sempurna.
"Pentingnya teknik yang tepat bukan hanya soal estetika, tetapi juga kepuasan pelanggan," ujarnya sambil mempraktikkan potongan rambut berlapis yang halus.
Di sisi lain, Anda Arrusa, pakar hair updo, membimbing para peserta dalam menciptakan sanggul yang elegan, baik gaya updo maupun low updo. Sambil menyisir rambut model, Anda berbagi pengalaman bekerja dengan artis papan atas.
"Dalam profesi ini, detail adalah segalanya. Setiap sentuhan kecil dapat mengubah keseluruhan tampilan," ungkapnya, disambut antusias tepuk tangan peserta.
Conny Wulandari, seorang peserta berusia 67 tahun, tampak bersemangat mengikuti seluruh sesi. Meski sudah lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia tata rias, Conny merasa ilmu baru yang didapatkan dari acara ini sangat berharga.
"Walaupun sudah tua, saya tetap ingin berkembang. Dunia kecantikan terus berubah, dan kita harus selalu update," tuturnya.
Dia mengaku teknik pewarnaan rambut dan penataan sanggul yang dipelajarinya akan langsung diterapkan di salonnya. “Ilmu seperti ini membantu saya memberikan layanan yang lebih baik bagi pelanggan. Selain itu, ini juga jadi motivasi untuk terus membuka diri terhadap tren baru,” tambahnya sambil tersenyum.
Di tengah deretan peserta yang mayoritas berusia senja, ada semangat yang membara. “Kami yang sudah tua saja masih mau belajar, masa anak muda tidak tertarik belajar?” canda Conny, disambut tawa peserta lain.
Menuk Sri Ningsih, ketua Tiara Kusuma Solo menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang memperkaya keterampilan, tetapi juga memberdayakan perempuan lansia agar tetap produktif.
"Tantangan kami cukup berat, terutama karena banyak anggota yang sudah lanjut usia. Tapi justru di sinilah kekuatan kami—bagaimana memanfaatkan keterampilan mereka agar tetap bisa mandiri," ujarnya.
Menurut Menuk, workshop ini tak hanya mengajarkan teknik tata rambut, tetapi juga membekali para peserta dengan keterampilan yang dapat menjadi sumber penghasilan.
“Kami ingin para perias tidak hanya bergantung pada usia muda untuk berkembang. Justru, dengan pengalaman yang mereka miliki, para lansia ini memiliki keunggulan dalam kualitas layanan,” jelasnya.
Sesi workshop yang didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Kota Solo ini diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi para peserta. Bahkan, Menuk mengungkapkan rencana untuk memperluas jangkauan seminar di masa depan, termasuk melibatkan peserta dari luar Solo.
“Kami optimistis, meskipun tantangan seperti keterbatasan dana dan regenerasi anggota tetap ada, kami akan terus berinovasi. Ke depan, kami ingin menjangkau lebih banyak perempuan dari berbagai usia untuk bergabung dan mengembangkan keterampilan mereka,” pungkas Menuk dengan penuh keyakinan. (zia/bun)
Editor : Kabun Triyatno