RADARSOLO.COM - Kecintaan terhadap seni budaya perlu ditumbuhkan sejak dini, khususnya kepada generasi muda. Sanggar Sekar Mangun menjadi ruang bagi anak-anak untuk berkreasi dengan seni pertunjukan tradisional.
Sudah tiga tahun, Sanggar Sekar Mangun menjadi bagian dari kehidupan anak-anak di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon.
Di sanalah mereka belajar berbagai seni, seperti bermusik, bermain gamelan, menari, bernyanyi, hingga menyinden. Di bawah bimbingan Sapto Wardhana, 24, sanggar ini menjadi ruang anak-anak untuk lebih dekat dengan budaya.
Terbentuknya Sanggar Sekar Mangun bermula dari inisiatif Sapto dan rekannya dalam program kuliah kerja nyata (KKN). Di mana saat kegiatan KKN berakhir, banyak anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk terus belajar seni, khususnya tari dan gamelan.
"Awalnya itu hanya melanjutkan kegiatan KKN yang sempat terhenti, tetapi warga meminta untuk kembali mengajar seni, hingga akhirnya kami sepakat untuk membentuk sanggar dan melanjutkan kegiatan seni untuk anak-anak," ujar Sapto kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (3/12).
Antusiasme anak-anak untuk menjaga dan melestarikan seni budaya menjadi landasan kuat berdirinya Sanggar Sekar Mangun. Awalnya, kegiatan seni di sanggar ini hanya fokus pada pengajaran gamelan. Beberapa pengajar yang terlibat pun berasal dari kelompok KKN.
Meski begitu, anak-anak berusia SD-SMA ini sangat antusias mengikuti pelajaran yang diberikan. "Mereka datang dengan semangat setiap Sabtu, bahkan sekitar 30 anak latihan nggamel bersama-sama," tambah Sapto.
Seiring berjalannya waktu, minat anak-anak terhadap seni semakin berkembang. Sanggar ini tidak hanya mengajarkan gamelan. Tetapi juga menambah berbagai kegiatan seni lain seperti tari, nyanyi, dan menyinden.
Hal ini bertujuan untuk memberi pengalaman yang lebih, agar mereka dapat menghargai dan mengenal ragam budaya sendiri.
"Saat kami mulai memperkenalkan tari dan nyinden, respon anak-anak sangat positif. Mereka tertarik dengan seni tradisional yang tidak hanya melibatkan musik, tetapi juga gerakan tubuh dan ekspresi melalui suara," ujar Sapto.
Upaya Sanggar Sekar Mangun menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, anak-anak bisa lebih tertarik pada budaya tradisional yang mungkin selama ini dianggap ketinggalan zaman.
Dimana keunikan dari sanggar ini ialah kemampuan mereka untuk menggabungkan seni tradisional dengan elemen-elemen modern.
Pengajaran gamelan yang diajarkan di sanggar tidak hanya terbatas pada teknik tradisional, tetapi juga melibatkan inovasi dalam bermusik.
"Karena mengajarkan musik tradisi, khususnya gamelan itu juga ada tantangannya. Ciri khas gamelan yang lembut kadang membuat anak-anak sedikit bosan, sehingga perlu inovasi pengajaran yang interaktif kepada mereka," urainya.
Anak-anak pun mulai diajarkan untuk mengaransemen lagu menggunakan gamelan, bahkan memadukannya dengan alat musik modern seperti gitar dan drum.
Selain itu, dalam bermusik Sapto juga menggunakan teknologi bernama Sequencer. Alat yang digunakan untuk memproduksi karya serta memudahkan pemain saat tampil di atas panggung.
"Kami merambah ke alat elektronik, selayaknya band-band, namanya alat Sequencer. Jadi saat tampil anak-anak menggunakan earphone untuk mendengarkan metronom dalam musiknya, supaya bisa membangkitkan ambience yang maksimal dalam pertunjukan," urainya.
Dengan inovasi tersebut, Sanggar Sekar Mangun pun berhasil menciptakan empat karya. Satu diantaranya bahkan telah rilis di media sosial mereka.
Tak hanya itu, mereka juga aktif mengisi berbagai event di Solo Raya. Sebut saja, acara Muktamar Muhammdiyah, Solo Batik Carnival, pentas di universitas, dan lain sebagainya.
"Kami juga terus berkreasi menciptakan lagu sendiri. Termasuk menggarap medley lagu-lagu nusantara, maupun tembang-tembang agar anak-anak senang dan melestarikan budaya tradisional mereka," pungkas Sapto. (ul/bun)
Editor : Kabun Triyatno