RADARSOLO.COM - Perjalanan hidup Alfin Dwi Novemyanto adalah kisah penuh inspirasi tentang tekad, keberanian, dan semangat pantang menyerah.
Pemuda asal Sragen ini baru saja dinobatkan sebagai Pemuda Berprestasi dan Inspiratif oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Ada jalan panjang di balik prestasi ini.
Alfin tumbuh dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Sejak perceraian kedua orang tuanya, dia dan dua saudaranya hidup bersama ibunya yang bekerja sebagai pemulung.
Dia menghadapi berbagai tantangan, termasuk kurangnya dukungan keluarga terhadap pendidikan. Bahkan, dia harus diam-diam mendaftar kuliah karena keluarganya lebih menginginkan dia segera bekerja.
“Pada saat SMA, saya dikenal sebagai siswa berprestasi. Tapi keluarga saya kurang mendukung untuk melanjutkan studi. Mereka berpikir lebih baik saya langsung bekerja. Namun, saya percaya bahwa ilmu adalah harta yang akan membawa saya ke jalan kesuksesan,” ujarnya
Meski begitu, dukungan dari guru SMA-nya membuka jalan bagi Alfin. Dia berhasil mendapatkan beasiswa bidikmisi dan melanjutkan studi S1 ilmu hukum di Universitas Terbuka (UT).
Perjuangan Alfin tidak berhenti di situ. Saat melanjutkan pendidikan S2, dia menghadapi tantangan yang lebih besar. Keluarganya kembali meragukan keputusannya untuk melanjutkan studi.
“Saat saya memutuskan lanjut S2, keluarga saya bilang, ‘Kenapa harus S2? Kerja saja,’” kenangnya.
Namun, teman-temannya memaksa dia mendaftar beasiswa LPDP pada H-7 masa pendaftaran ditutup. Prosesnya penuh perjuangan. Dengan waktu persiapan yang minim, dia harus menyelesaikan berkas, tes TOEFL, dan esai hanya dalam hitungan hari.
“Teman-teman biasanya mempersiapkan pendaftaran LPDP selama berbulan-bulan, bahkan dua tahun. Tapi saya hanya punya waktu beberapa hari. Alhamdulillah, saya berhasil lolos seleksi administrasi,” ungkapnya.
Seleksi bakat skolastik menjadi tantangan berikutnya. Namun, dengan kemampuan logika dan hitungan yang dimilikinya, Alfin berhasil mencetak skor 195 dari 300, jauh di atas ambang batas minimum.
“Tes substansi juga penuh drama. Sehari sebelum wawancara, akun Instagram saya kena banned. Padahal itu salah satu sumber mata pencaharian saya. Malam itu saya sangat berlarut dalam kesedihan, tapi saya paksa belajar dari jam empat pagi hingga wawancara dimulai,” ceritanya.
Alfin kini sedang menempuh S2 Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta sejak Agustus lalu. Dia bercita-cita menjadi peneliti, pemberdaya, dan pendidik.
Bagi Alfin, pendidikan adalah cara untuk mengubah nasib. Dia meyakini bahwa ilmu akan menjadi harta yang tak ternilai. Selama kuliah di UT, dia tidak hanya belajar, tetapi juga aktif mengikuti berbagai lomba, menjadi asisten dosen, dan berkontribusi di organisasi kampus.
“Uang beasiswa Bidikmisi hanya Rp 700 ribu per bulan. Saya memutuskan untuk mencari tambahan dengan mengikuti lomba sebanyak mungkin. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa berkembang, meski tidak bekerja di instansi seperti kebanyakan mahasiswa lainnya,” jelas Alfin.
Keraguan yang sering datang dari keluarga, tetangga, hingga kakaknya justru menjadi bahan bakar bagi Alfin untuk terus maju.
“Saat S1, ada tetangga yang bilang, ‘Apa kamu bisa kuliah?’ Kata-kata seperti itu tidak saya jadikan hal negatif, tapi motivasi untuk membuktikan bahwa saya bisa sukses,” tegasnya.
Berkat kegigihan dan prestasinya, Alfin dinobatkan sebagai Pemuda Berprestasi dan Inspiratif dari Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 28 Oktober lalu.
"Saya juga diundang salah satu media dan diberi kesempatan mewujudkan mimpi saya memiliki sepeda motor dan dilunasi utang ibu saya sekira Rp 6 juta," imbuhnya.
Dia pun kerap membagikan ilmunya secara gratis dalam seminar-seminar inspiratif terkait tips meraih beasiswa, berprestasi, dan pengembangan diri. Alfin berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda.
“Semakin tinggi mimpi yang kamu punya semakin besar juga pencapaian yang akan kamu dapat nanti. Tidak ada mimpi yang lalu tinggi untuk dicapai hanya ada niat terlalu rendah untuk melangkah,” kata Alfin. (zia/bun)
Editor : Kabun Triyatno