RADARSOLO.COM - Jembatan dan Bendung Winong, Kecamatan Gondang, Sragen dilanda bencana. Yang terjadi, bendungan jebol hingga menyebabkan jembatan putus akibat banjir.
Tapi siapa sangka, di kawasan tersebut sangat kental aura mistis. Sering jadi jujugan orang-orang tertentu untuk ritual mencari pesugihan.
Bendung Winong merupakan tempuran atau pertemuan antara dua sungai besar. Yakni Kali Mondokan dan Kali Sawur. Belum lama ini, bendung dan jembatan di sana rusak parah diterjang air bah.
Di luar bencana yang terjadi, kawasan Bendung Winong dipercaya sebagai “ladang” untuk ritual mencari pesugihan.
Warga sekitar bahkan dari daerah lain kerap kali menjuluki kawasan tersebut sebagai Pasar Tuyul.
Sebagai catatan, makhluk mitologi ini telah menjadi bagian dari cerita rakyat. Digambarkan sebagai anak kecil dengan kepala plontos, namun memiliki kemampuan magis. Yakni mengambil uang milik orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Biasanya, yang datang ritual ke Pasar Tuyul bukan sembarang orang. Mereka memiliki kemampuan dan pengetahuan spiritual yang kuat. Termasuk nyali yang mumpuni.
Menurut pengakuan Bayu, warga Sragen yang pernah tinggal di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sudah menjadi rahasia umum jika Bendung Winong dikenal sebagai Pasar Tuyul. Karena di sana sering digunakan untuk ritual berburu tuyul.
Bayu juga mengaku pernah mengantarkan seseorang berburu tuyul di sana. Namun, dia sama sekali tidak mengetahui proses ritualnya.
“Itu kan lokasinya ada pertemuan Kali Sawur dan Kali Mondokan. Ya biasanya ritual mencari tuyul, ada di sekitar lokasi itu,” ujar Bayu.
Pengakuan senada dilontarkan Robi, warga Kecamatan Gondang. Dia mengaku kawasan Bendung Winong lebih dikenal sebagai Pasar Tuyul. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana asal usul penamaan tersebut,
“Mungkin karena ada pertemuan dua sungai itu, jadi kesannya lokasinya wingit (angker). Kata orang-orang tua zaman dulu, biasanya tempuran sungai itu tempatnya cocok untuk ritual kungkum (berendam),” bebernya.
Robi juga kurang paham proses dari ritual berburu tuyul di Bendung Winong. Namun menurut cerita yang didengarnya, setiap peserta ritual berburu tuyul wajib membawa ayam cemani jago.
"Ayam lokal yang memiliki warna serbahitam. Selain itu juga membawa aneka kembang dan kemenyan,” ujarnya.
Sementara itu, anggota DPRD Sragen asal Kecamatan Gondang Bambang widjo Purwanto saat dikonfirmasi kurang memahami terkait ritual berburu tuyul di Bendung Winong.
Dia hanya menjelaskan, bawah lokasi tersebut merupakan tempuran dua sungai besar. (din/fer)
Editor : Damianus Bram