Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Siswa asal Solo Harumkan Nama Indonesia, Sabet Medali Perunggu di Kejuaraan Dunia Pencak Silat Junior

Fauziah Akmal • Selasa, 7 Januari 2025 | 04:12 WIB
Krisnanto Suryo Koco usai raih perunggu di ajang ADNEC di UEA Desember 2024 (IST)
Krisnanto Suryo Koco usai raih perunggu di ajang ADNEC di UEA Desember 2024 (IST)

RADARSOLO.COM - Krisnanto Suryo Koco, siswa SMP Khusus Olahraga (SKO) Solo, menorehkan sejarah. Atlet muda berusia 14 tahun ini baru saja meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia Pencak Silat Junior 2024 di ADNEC Centre, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Di ADNEC Centre, atmosfer kompetisi terasa begitu intens. Riuh sorakan suporter dari berbagai negara memenuhi arena. Krisnanto, dengan seragam khas merah-putihnya, tampak fokus, meski sesekali terlihat menahan tekanan.

Saat namanya diumumkan sebagai peraih medali perunggu, raut wajahnya berubah lega. Senyum kecil mengembang, mencerminkan kebanggaan telah membawa nama Indonesia di pentas dunia.

Dalam kejuaraan yang diikuti oleh atlet dari 36 negara pada 18-22 Desember 2024 ini, Krisnanto mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya, meski ini adalah debutnya di tingkat dunia. Dia berhasil mengalahkan lawan dari Armenia di babak awal, sebelum langkahnya terhenti di semifinal melawan atlet Singapura.

Perjalanan Krisnanto menuju kejuaraan dunia tidaklah mudah. Dia harus melewati berbagai seleksi ketat, mulai dari Popda tingkat kota, karesidenan, hingga provinsi.

"Untuk kejuaraan nasional, harus ada sertifikat dari provinsi dulu. Seleksi lagi, baru bisa ikut kejuaraan dunia," ungkapnya, Senin (6/1/2024).

Suasana di ADNEC Centre yang dipadati suporter dari berbagai negara menjadi ujian mental tersendiri bagi Krisnanto. "Tekanan di sana luar biasa, dari musuh, suporter, bahkan diri sendiri. Sempat nge-blank pas main, tapi aku tetap berusaha memberikan yang terbaik," ujarnya.

Kecintaan Krisnanto terhadap pencak silat tumbuh sejak kecil. Ayahnya, seorang mantan atlet pencak silat seni tunggal, menjadi guru pertamanya. “Dari umur dua tahun, aku sudah diajari ayah,” kenangnya.

Awalnya, dia fokus di seni tunggal. Namun, sejak kelas 4 SD, ia beralih ke nomor fighter yang menurutnya lebih menantang. Sejak masuk SKO Solo, intensitas latihannya semakin meningkat.

“Latihan itu pagi, siang, sore. Tapi yang paling sulit itu menjaga fisik tetap prima dan berat badan ideal. Idealnya kemarin 51-55 kg, kadang over, kadang kurang sedikit,” ceritanya.

Bagi Krisnanto, prestasi bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga pembuktian diri. "Keluarga sering diremehkan. Itu yang memacu aku untuk membuktikan diri dan membanggakan orang tua," katanya tegas.

Meski hanya membawa pulang perunggu, Krisnanto tetap bangga. "Ini pengalaman pertama di dunia. Evaluasinya, aku harus lebih intensif latihan dan mau naik kelas berat," tambahnya.

Krisnanto bercita-cita menjadi abdi negara sambil terus mengembangkan karier di pencak silat. Fokus terdekatnya adalah mengikuti kejuaraan tingkat karesidenan pada April atau Mei mendatang.

“Motivasi terbesar itu ketika nama aku pertama kali muncul di Popda Jawa Tengah. Rasanya bangga sekali,” ungkapnya.

Dia juga memberikan pesan kepada teman-teman seusianya, “Kalau latihan, harus serius. Jangan bercanda dan harus disiplin.”

Pengalaman di panggung dunia memberikan Krisnanto pelajaran berharga tentang pentingnya mental bertanding. "Bisa membela Indonesia itu sudah sangat membanggakan. Insya Allah tahun depan bisa lebih maksimal,” tandasnya. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#atlet #kejuaraan dunia #pencak silat #suporter