RADARSOLO.COM - Barang bekas seringkali dianggap sebagai sampah yang tidak berguna. Namun, di tangan Asih Sumastrini, barang-barang tidak terpakai itu justru menjadi sumber kreativitas seni dan peluang ekonomi.
Kiprah Asih Sumastrini menyulap barang bekas menjadi bernilai sudah dilakoni sejak lama. Sedari kecil, wanita berusai 50 tahun ini belajar mengolah barang-barang untuk dijadikan mainan maupun alat kebutuhan sehari-hari.
Kreativitasnya itu ditularkan dari sang ayah, yang selalu mengajarkan untuk memanfaatkan barang-barang berguna di sekitarnya.
"Dari kecil, saya sudah diajarkan oleh orang tua untuk memanfaatkan barang-barang bekas. Bapak saya selalu mengajak saya mencari bahan-bahan dari sekitar untuk membuat mainan atau alat-alat rumah tangga," kata Asih kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (15/1).
Kebiasaan ini pun terbawa oleh Asih hingga dewasa. Di 2017, Asih mulai mengembangkan kemampuannya dalam merajut plastik kresek, yang sebelumnya ia gunakan hanya sebagai bahan mainan atau kerajinan kecil.
"Bagi saya, mengolah barang bekas sudah menjadi kebiasaan. Saat orang-orang mulai berbicara tentang sustainable itu sebenarnya sudah lama ada. Karena sampah yang kita hasilkan sendiri, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi barang yang bernilai," jelas Asih.
Salah satu hasil karya Asih adalah tas-tas unik yang terbuat dari plastik kresek bekas. Ia juga sering mengadakan workshop untuk mengajarkan anak-anak cara membuat tas dari kardus bekas.
Seperti dalam workshop heatpress plastic yang berlangsung di salah satu hotel di Solo, Rabu (15/1). Asih menularkan keterampilannya kepada para pelaku UMKM lainnya.
"Saya senang sekali melihat peserta, masyarakat, ataupun anak-anak begitu antusias membuat tas dari barang bekas. Mereka bisa berkreasi sambil belajar tentang pentingnya mengolah sampah," kata Asih.
Asih tak memungkiri mengolah barang bekas tidak selalu mudah. Menurutnya, beda bahan beda kesulitan. Seperti plastik kresek, meskipun lentur dan kuat, memerlukan ketelitian saat dipanaskan dengan setrika.
"Begitu pula kardus bekas, karena sifatnya yang kaku, membutuhkan kekuatan dan ketelitian lebih saat memotong dan membentuknya," tuturnya.
Namun, kesulitan ini justru membuat proses menciptakan produk dari barang bekas menjadi lebih menarik baginya.
"Setiap barang bekas memiliki karakter yang berbeda, dan itu seperti tantangan untuk memanfaatkannya. Saya merasa, meskipun barang bekas itu tidak sempurna, saya bisa memberinya 'nyawa' lagi sebagai barang berguna," ujar dia.
Di samping itu, Asih turut menyadari pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengolah sampah. Ia percaya bahwa kebiasaan ini harus dimulai dari rumah.
"Edukasi tentang pentingnya memilah sampah dan mengolahnya dengan benar harus dimulai sejak dini, dari keluarga. Kalau orang tua sudah disiplin tentang sampah dan kebersihan, anak-anak pun akan mengikuti dengan sendirinya," hematnya.
Bagi Asih, setiap barang yang tampaknya sudah tak terpakai lagi masih memiliki potensi untuk berguna. Ia juga menyarankan agar memilah barang bekas sebelum didaur ulang. Terutama menghindari barang beracun yang dapat membahayakan tubuh ataupun lingkungan.
Asih jug berharap lebih banyak orang yang sadar akan pentingnya mengolah sampah dan menciptakan produk yang ramah lingkungan.
"Harapannya, orang-orang semakin berempati terhadap bumi, karena ini bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk kenyamanan anak-anak kita di masa depan," tandasnya. (ul/bun)
Editor : Kabun Triyatno