Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Wulan Ratnasari, sang Penjaga Tradisi Kue Moho di Solo, Kudapan Legendaris Imlek

Maulida Afifa Tri Fahyani • Kamis, 13 Februari 2025 | 03:46 WIB
Wulan Ratnasari tetap akan mempertahankan membuat kue moho. (Maulida Afifa/Radar Solo)
Wulan Ratnasari tetap akan mempertahankan membuat kue moho. (Maulida Afifa/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern, Wulan Ratnasari tetap teguh menjaga eksistensi kue moho, jajanan tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek.

Di kios sederhananya yang terletak di Baluwerti, Pasar Kliwon, Wulan setiap hari sibuk mengolah adonan, memastikan setiap kue moho yang dia buat memiliki cita rasa khas warisan keluarga.

Saat Imlek tiba, kesibukannya berlipat ganda. Pesanan mengalir dari berbagai penjuru, tidak hanya dari warga Solo tetapi juga dari luar kota. Bagi masyarakat Tionghoa, kue moho bukan sekadar kudapan, tetapi bagian dari ritual sembahyang yang memiliki makna keberuntungan.

"Ya, setiap tahun selalu ramai, terutama saat menjelang Imlek. Permintaan melonjak drastis, banyak pelanggan yang datang mencari kue ini," ujar Wulan saat ditemui di kiosnya, Jumat (24/1).

Sebagai generasi kedua dalam usaha keluarganya, Wulan telah menjalankan bisnis ini sejak ibunya merintisnya pada 2005. Dia berkomitmen untuk menjaga keaslian resep, sembari memastikan kualitas tetap terjaga demi memuaskan pelanggan setianya.

Di balik tekstur lembut dan aroma khas kue moho, ada proses panjang yang membutuhkan ketelatenan. Pembuatan dimulai dengan mempersiapkan biang sehari sebelumnya, kemudian mencampurkannya dengan tepung gandum dan mendiamkannya hingga mengembang.

"Setelah itu, baru adonan diberi gula dan pewarna, lalu dikukus hingga mengembang sempurna," jelasnya.

Semua proses dilakukan secara manual dengan tangan, tanpa bantuan mesin modern. Hal inilah yang menjaga cita rasa tetap otentik. Namun, kendala tetap ada.

"Yang paling sulit itu kalau biangnya tidak jadi atau bahan tapenya kurang berkualitas. Ini bisa membuat rasa kue berubah dan tidak kenyal seperti seharusnya," ungkap Wulan.

Bahan utama kue moho adalah tepung gandum dan tape pohung (singkong). Kualitas bahan sangat menentukan hasil akhir. Itulah mengapa Wulan selalu selektif dalam memilih bahan baku.

Tingginya permintaan membuat Wulan bisa menghabiskan sekitar 50 kilogram bahan baku per hari selama periode Imlek. Pesanan datang dari pelanggan perorangan hingga kelenteng-kelenteng yang membutuhkan dalam jumlah besar.

"Hari biasa produksi sekitar 35-40 kilogram, tapi kalau menjelang Imlek bisa naik jadi 50 kilogram sehari. Bahkan, ada yang membeli sampai 100 biji sekaligus," ujarnya.

Meski begitu, dia tetap menjaga harga agar tetap terjangkau untuk semua kalangan. Di kiosnya, Wulan tidak hanya menjual kue moho, tetapi juga berbagai jajanan pasar tradisional seperti cakwe, onde-onde, bolang-baling, dan donat—semuanya dijual dengan harga seragam Rp2.500 per biji.

Kue moho buatannya pun tak hanya dinikmati warga Solo, tetapi juga telah merambah ke Semarang, Magelang, Salatiga, Sragen, Purwodadi, dan Karanganyar.

"Saya ingin usaha ini tetap ada dan terus melestarikan tradisi kuliner, terutama kue moho yang semakin langka. Ini adalah warisan yang harus dijaga," ujar dia. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#imlek #tradisional #Kue Moho #jajanan #tionghoa