Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kisah Inspiratif Cantikka Yobel, dari Penyintas Kanker Menjadi Duta Kepemimpinan Muda Kota Solo

Fauziah Akmal • Selasa, 18 Februari 2025 | 03:23 WIB
Cantikka Yobel dan penyintas kanker anak memberi semangat bagi para penyintas kanker. (Fauziah Akmal/Radar Solo)
Cantikka Yobel dan penyintas kanker anak memberi semangat bagi para penyintas kanker. (Fauziah Akmal/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di tengah stigma yang kerap melekat pada penderita kanker, Cantikka Yobel Putri Pangestu, 15, memilih melihat penyakitnya sebagai berkat dari Tuhan bagi orang-orang terpilih.

Suasana pagi di car free day (CFD) Jalan Slamet Riyadi Solo sudah terasa begitu hidup, diwarnai oleh hiruk-pikuk berbagai aktivitas masyarakat. Para pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pesepeda motor yang berhenti sejenak di tengah keramaian itu seakan menjadi saksi bagi sebuah momen penting yang tidak terlihat oleh banyak orang.

Di antara keramaian ini, terdapat sekelompok aktivis dan penyintas kanker yang merayakan Hari Kanker Anak Internasional, menyebarkan pesan harapan, dan mengajak orang-orang untuk berdiri bersama mereka dalam perayaan hidup.

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah keberadaan papan tulis besar di tengah kerumunan, tempat pengunjung menuliskan pesan motivasi bagi penyintas kanker. Di tengah-tengah para penyintas itu, berdiri Cantikka Yobel Putri Pangestu, seorang remaja berusia 15 tahun yang tak hanya menjadi inspirasi bagi sesama penderita kanker, tetapi juga bagi setiap orang yang pernah merasakan kesulitan hidup.

Cantikka mengingat dengan jelas ketika, tepat pada ulang tahunnya yang kelima di 2015, sebuah penyakit mulai menggerogoti tubuh kecilnya. Awalnya, dia mengira sakit yang dirasakannya adalah penyakit jantung.

Namun, setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut di puskesmas, dia pun dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi Solo, tempat di mana dia akhirnya didiagnosis mengidap leukemia, kanker darah yang sangat jarang diderita oleh anak-anak seusianya.

"Awalnya, aku mengira sakitku hanya masalah jantung. Tapi begitu dokter menjelaskan, aku tahu ini bukan sekadar flu biasa," ujarnya mengenang betapa perasaan cemasnya mengarah pada diagnosis yang mengubah seluruh hidupnya.

Begitu mengetahui bahwa kanker yang menyerangnya sudah berada di stadium 2, Cantikka harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU.

Selama dua tahun, dia menerima lebih dari 180 kali kemoterapi, proses yang tak hanya melelahkan fisik, tetapi juga menguji ketangguhannya secara mental. Tak jarang, saat proses infus berjalan, dua tangannya dipenuhi jarum suntik. Meski demikian, Cantikka mengaku tidak merasa takut.

"Waktu itu, aku masih kecil, jadi aku merasa biasa saja," ungkapnya.

Namun, dunia tak selalu ramah pada seseorang yang berbeda. Rambut Cantikka rontok akibat kemoterapi, dan wajahnya yang pucat kerap menjadi sasaran ejekan teman-teman di sekolah. Bullying menjadi bagian dari hidupnya. Tetapi Cantikka tidak membiarkan hal itu meruntuhkan semangatnya.

Bagi Cantikka, kanker bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah berkat. Baginya, kanker adalah sesuatu yang membawa perubahan besar dalam hidupnya.

"Kanker itu bukan kutukan. Itu berkat. Aku jadi lebih kuat. Aku jadi lebih tahu cara berjuang," kata Cantikka dengan penuh keyakinan.

Motivasi terbesar Cantikka untuk sembuh datang dari dalam dirinya sendiri. Ia percaya bahwa dengan keyakinan dan tekad yang kuat, dia pasti bisa sembuh.

"Aku percaya pada diri aku sendiri. Ambisius itu adalah salah satu kunci aku bisa bertahan," ujarnya, mengungkapkan betapa kuatnya dorongan hati yang membuatnya terus berjuang.

Dukungan tak ternilai dari keluarganya juga memberi kekuatan tersendiri. Setiap kali merasa lelah dan kehilangan semangat, keluarganya selalu ada di sampingnya, memberikan dukungan moral dan memenuhi keinginannya untuk terus maju.

Kini, meski sudah bebas dari leukemia, Cantikka tetap menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Dia berhasil meraih berbagai prestasi di sekolahnya, mulai dari ketua kelas hingga wakil ketua OSIS. Bahkan, ia dinobatkan sebagai duta kepemimpinan di sekolahnya.

"Buat aku, sakit bukan jadi halangan untuk meraih impian. Jangan biarkan apapun menghalangi kita," tegasnya, memberikan semangat pada teman-temannya.

Cantikka berharap, semua orang dapat yakin pada diri sendiri dan tidak terhambat oleh kesulitan hidup. "Ketika kita bahagia, ketika kita sukses, itu tidak akan merugikan orang lain, selama kita bisa berusaha," tuturnya. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Leukimia #kanker #anak #penyintas #kota solo