Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Perjalanan Inspiratif Guru SMK Solo Ary Yulistiana Menyuarakan Pendidikan Indonesia di Dunia

Fauziah Akmal • Rabu, 26 Februari 2025 | 04:03 WIB
Ary Yulistiana saat presentasi di BETT Show London. (Ist)
Ary Yulistiana saat presentasi di BETT Show London. (Ist)

RADARSOLO.COM - Ary Yulistiana, guru bahasa Indonesia SMK Negeri 9 Solo menjadi satu-satunya guru yang tampil di British Educational Training and Technology (BETT) Show di London, Inggris pada akhir Januari lalu. Pengalaman di forum internasional ini penuh tantangan.

Ary tiba di Heathrow Airport London setelah perjalanan panjang selama 16 jam dari Bandara Adi Sumarmo Solo, pada 21 Januari lalu. Sebelumnya, perjalanan harus ditempuh ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta lanjut ke Istanbul Airport Turki dan menuju Heathrow London.

Sampai di sana, dia menuju hotel dan mempersiapkan diri untuk kegiatan di venue BETT Show. Tiba gilirannya untuk presentasi pada hari kedua kegiatan. Sembari menunggu sesi presentasinya, rasa gugup menghampiri dia. Terlebih efek penerbangan panjang tak bisa dihindarinya yang membuat badan kurang nyaman dan sakit tenggorokan. Belum lagi tubuhnya yang harus beradaptasi dengan suhu musim dingin yang mencapai 4°C. 

"Saat menunggu sesi, saya mencari teh panas untuk sekadar membuat tenggorokan nyaman. Saya duduk di food court area dan menghirup teh lambat-lambat," ceritanya.

Di tengah kegelisahannya, Ary bertemu dengan seorang pria parobaya berwajah Timur Tengah yang memberikan semangat dan membuatnya kembali percaya diri. Dia mulai yakin bahwa apa yang akan disampaikannya tentang Indonesia memiliki nilai bagi audiens internasional.

"Saya diundang oleh Kahoot! Corporation untuk hadir di BETT Show, yang merupakan pameran teknologi pendidikan terbesar di Eropa. Dari sekira 1.400 Kahoot Ambassador di dunia, hanya 10 orang yang diundang, dan saya satu-satunya dari Indonesia," jelas Ary.

Undangan ini bermula dari kebiasaannya menggunakan Kahoot sejak 2019 silam yang masih berbahasa Inggris. Namun, pada 2024 Kahoot merilis platformnya dalam bahasa Indonesia.

"Ketika mereka ingin meluncurkan versi Indonesia, saya dihubungi untuk berbagi pengalaman menggunakan Kahoot di kelas," ujarnya.

Dia memanfaatkan platform ini tidak hanya kala mengajar di kelas, tetapi ketika melakukan pelatihan-pelatihan ataupun webinar dengan guru lain. Bahkan, dia sering mengirimkan buku karyanya ke rekan guru di daerah 3T pemenang kuis di Kahoot.

Dia membawakan presentasi bertajuk Kahoot in Asia: Insights from the Indonesian Experience. Dia menceritakan bagaimana teknologi pendidikan diterapkan di Indonesia, mulai dari sekolah di perkotaan hingga daerah terpencil.

"Saya berbagi tentang tantangan pendidikan abad ke-21 di Indonesia, termasuk kesenjangan akses teknologi di berbagai wilayah. Jakarta sudah sangat maju, tetapi di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) masih mengalami keterbatasan internet dan listrik. Teknologi seperti Kahoot dapat membantu mengatasi tantangan tersebut," paparnya.

Awalnya, Ary mengkhawatirkan apakah ada yang akan tertarik dengan presentasinya tentang Indonesia. Namun, kenyataannya berbeda. Maklum di harus presentasi di tengah 30 ribu pengunjung acara dan 600 perusahaan dunia yang berpartisipasi, belum banyak orang yang mengenal Indonesia.

"Saya kira bakalan sepi, ternyata audiens sangat antusias. Mereka mendekati saya setelah presentasi, mengapresiasi dan berkata, 'Terima kasih sudah berbagi cerita tentang Indonesia, kami baru tahu tentang itu’," imbuhnya.

Selain menyampaikan materi, Ary juga membawa suvenir khas Indonesia. "Banyak yang senang mendapat oleh-oleh dari Indonesia. Mereka penasaran dan ingin tahu lebih banyak," katanya.

BETT Show juga menjadi ajang bagi Ary untuk belajar dan melihat perkembangan teknologi terbaru di dunia pendidikan. "Saya melihat berbagai inovasi dari perusahaan besar seperti Microsoft, Canva, dan Google. Saya juga mencoba alat-alat baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya di Indonesia," ungkapnya.

Ia juga mengamati bagaimana negara lain, seperti Arab Saudi, Korea Selatan, dan Italia, memperkenalkan sistem pendidikan mereka. "Mereka bahkan mengundang orang-orang untuk belajar di negara mereka. Ini memberi saya wawasan baru tentang bagaimana strategi promosi pendidikan diterapkan secara global," ujar dia. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#venue #Bahasa Indonesa #guru #smk