RADARSOLO.COM - Di balik selembar kaca, Narto Sabdo Utomo menemukan kembali semangat hidupnya. Kehilangan kaki akibat kecelakaan sempat meruntuhkan segalanya, namun dari kepingan keterpurukan, dia bangkit melalui goresan seni. Keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari kisah baru yang lebih bermakna.
Pagi itu, suasana di Dalem Sumber, kediaman Presiden Ke-7 RI Joko Widodo terasa lebih ramai dari biasanya. Di antara kerumunan warga yang berharap bisa berswafoto dengan mantan presiden, Narto Sabdo Utomo tampak berdiri dengan penuh harap. Di tangannya, dia membawa dua lukisan kaca terbaiknya—karya yang bukan hanya sekadar goresan seni, tetapi juga cerminan perjuangan hidupnya.
Hari itu, Senin (10/3), menjadi momen spesial bagi Narto, seniman difabel yang telah melalui perjalanan panjang menuju penerimaan diri. Bersama pengurus Yayasan Difabel Indonesia, dia berkesempatan bertemu langsung dengan Jokowi, sosok yang sudah beberapa kali ditemuinya di berbagai kesempatan.
"Kami kebetulan sedang di Solo, lalu Bu Maria (pembina yayasan) mengajak mampir ke kediaman Pak Jokowi. Siapa tahu bisa bertemu lagi," ucap Narto, mengenang perjalanan yang akhirnya membawanya bertemu langsung dengan mantan orang nomor satu di Indonesia.
Tak sekadar bertemu, Jokowi menerima kedua lukisan kaca yang dibawa Narto. Salah satunya bergambar Werkudara berlatar Pulau Kalimantan, yang diberi judul Indonesia Kencana—sebuah doa dan harapan untuk Indonesia Emas.
"Werkudara itu simbol kekuatan. Saya menggambarkan dia berdiri di belakang Pulau Kalimantan yang saya beri warna emas, sebagai harapan agar Indonesia segera mencapai kejayaannya," tutur pria kelahiran Ponorogo ini.
Namun, kisah hidup Narto tak selalu sesederhana hari itu. Sebelum dikenal sebagai pelukis kaca difabel, ia harus melewati masa-masa tergelap dalam hidupnya.
Di usia 35 tahun, saat sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarga, kecelakaan tragis mengubah segalanya.
"Waktu itu saya mau beli daging untuk usaha bakso. Tiba-tiba ada mobil menabrak saya dari samping. Saya koma sebelas hari," kenangnya.
Saat sadar, kakinya masih utuh, tetapi lambat laun mulai menghitam. Diagnosa dokter menyatakan bahwa jaringan ototnya sudah mati, dan amputasi menjadi satu-satunya pilihan. Tahun 2014, Narto kehilangan kaki kanannya.
Sejak saat itu, dunia terasa runtuh. Ia tidak hanya kehilangan bagian tubuhnya, tetapi juga semangat hidupnya. Butuh waktu hampir dua tahun bagi Narto untuk bisa berdiri kembali, baik secara fisik maupun mental.
Segalanya berubah ketika ia bertemu dengan Yayasan Difabel Indonesia. Di sana, dia mendapat dukungan moral dan dorongan untuk kembali menemukan tujuan hidupnya.
"Saya melihat kaca di rumah Bu Maria. Iseng-iseng saya gambar, ternyata hasilnya lumayan. Dari sana saya mulai belajar lebih serius," ujarnya.
Awalnya, dia hanya melukis kaligrafi sederhana untuk mengisi waktu luang. Namun, seorang kiai di kampungnya tertarik dan memesan karya untuk masjid. Dari sana, karyanya mulai dikenal.
Dengan teknik otodidak, dia terus mengasah kemampuannya hingga akhirnya beralih ke lukisan kaca, yang kini banyak dipesan oleh komunitas pencak silat hingga perhotelan.
"Membangun semangat hidup seseorang itu tidak mudah. Selain fisik, mental mereka juga harus dikuatkan. Seperti Mas Narto ini, sekarang kami sedang mencoba menawarkan karyanya ke rekan-rekan perhotelan," ungkap Maria Yeti Saputri, pembina Yayasan Difabel Indonesia.
Kini, setelah satu dekade berlalu sejak tragedi itu, Narto bangkit dengan karyanya. Dari kaca yang dia lukis, dia tak hanya menemukan cara untuk bertahan, tetapi juga cara untuk bermimpi kembali. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno