RADARSOLO.COM - Anggun dalam balutan kebaya, para perempuan Komunitas Pecinta Kebaya Solo (PKS) merayakan enam tahun perjalanan mereka dalam melestarikan warisan budaya nusantara. Bukan sekadar busana, kebaya memiliki makna lebih dalam.
Langkah-langkah anggun berpadu dengan kilau kain tradisional memenuhi Gedung Wanita Solo. Puluhan perempuan tampil elegan dalam balutan kebaya, merayakan kecintaan mereka terhadap warisan budaya Nusantara.
Mereka adalah anggota Komunitas Pecinta Kebaya Solo (PKS), yang merayakan hari jadinya yang ke-6 pada 4 Februari lalu. Lebih dari sekadar busana, kebaya bagi mereka adalah identitas, filosofi, dan bentuk penghormatan terhadap budaya leluhur.
"Komunitas ini lahir dari keinginan untuk nguri-uri (melestarikan) kebaya Solo yang semakin jarang dipakai generasi muda," ujar Yuni Ediningsih, pendiri PKS.
Berdiri sejak 2019, komunitas ini berawal dari sebuah grup arisan, lalu berkembang menjadi perkumpulan pecinta kebaya dengan anggota dari berbagai latar belakang—mulai dari perias, penari, notaris, pegawai, hingga pegiat budaya.
"Kami memiliki sekitar 50 anggota, dan kami ingin menunjukkan bahwa kebaya bukan sekadar pakaian, tetapi juga bagian dari karakter perempuan Jawa," lanjut Yuni.
Bagi PKS, berkebaya bukan sekadar memakai pakaian tradisional, tetapi juga memahami pakem dan tata cara yang benar. Setiap potongan kebaya memiliki aturan tersendiri, mulai dari jenis kain, aksesoris, hingga alas kaki yang sesuai.
"Misalnya, kebaya Kutu Baru berbahan bludru harus dipadukan dengan selop tertutup. Kalau kebaya Kutu Baru biasa, cukup memakai sandal jinjit terbuka. Selain itu, penggunaan sanggul dan angkin menjadi ciri khas yang harus dijaga," jelas Yuni.
Selain berkumpul dan mengenakan kebaya, komunitas ini juga aktif dalam berbagai kegiatan seperti pelatihan perias, hantaran, serta edukasi mengenai filosofi kebaya dan budaya Jawa.
"Kami ingin kebaya bukan hanya dikenakan di acara formal, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup, bahkan bisa dipadukan dengan hijab," kata Yuni.
Bagi PKS, kebaya mengandung makna filosofis mendalam yang mencerminkan kesopanan, keanggunan, dan tata krama perempuan Jawa.
"Berkebaya mengajarkan kita untuk tampil anggun dan bersahaja. Perempuan yang mengenakan kebaya otomatis akan lebih menjaga sikap dan perilakunya. Ini adalah esensi kebaya yang harus terus diwariskan," tutur Yuni.
Untuk menarik minat generasi muda, PKS rutin mengadakan parade kebaya dan workshop padu padan busana. Harapannya, kebaya kembali menjadi pilihan utama dalam acara pesta, perayaan penting, bahkan kegiatan sehari-hari.
"Kami ingin anak muda bangkit lagi dengan berkebaya. Mereka bisa tetap tampil modern tanpa meninggalkan budaya, bahkan bisa memadukan kebaya dengan hijab," tambahnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, PKS berharap kebaya Solo tetap dicintai, dihargai, dan dikenakan oleh generasi muda, sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya leluhur.
"Ini bukan hanya soal fashion, tetapi juga tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melestarikannya," ujar Yuni. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno