Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Asiknya Menjalani Ramadhan di Negeri Kanguru, Seru Berburu War Tiket untuk Berbuka Puasa

Mannisa Elfira • Minggu, 16 Maret 2025 | 02:34 WIB
TEMPUH STUDI: Nur Amalia bersama suami dan ketiga anaknya di Negeri Kanguru.
TEMPUH STUDI: Nur Amalia bersama suami dan ketiga anaknya di Negeri Kanguru.

RADARSOLO.COM - Setelah sempat menempuh pendidikan di Australia 2010 silam, dosen asal Solo Nur Amalia ini kembali lagi ke Negeri Kanguru. Menjalani Ramadan bersama keluarga kecilnya di negeri orang.

Masih teringat di memori Nur Amalia bagaimana hidup sebagai single fighter di Australia, 2010-2011 silam.

Selama dua tahun, Amalia merantau ke negeri orang untuk menempuh pendidikan S2 di the University of Melbourne.

Tahun ini, dosen PGSD Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut berkesempatan terbang kembali ke Negeri Kanguru.

Baru mulai menimba ilmu S3, doctor of education di The University of Western Australia (UWA) di Perth.

Tak sendiri, Amalia datang bersama keluarga kecilnya. Ditemani sang suami dan tiga anaknya, mereka baru saja menginjakkan kaki di Perth pada 11 Februari kemarin.

Inilah yang membuat suasana rantauan tetap ramai dan hangat. Apalagi memasuki bulan suci Ramadhan.

"Jadi baru sebulan-an di sini. Dahulu saya masih single (waktu menempuh S2), kalau sekarang bawa keluarga rasanya beda. Kalau dulu rasa kangen rumah pengin pulang, tapi karena sekarang ada suami dan anak-anak, tidak terlalu terasa meski ada sedikit kerinduan," ujar Amalia kepada Jawa Pos Radar Solo.

Masakan-masakan Solo, contohnya. Cita rasa makanan Kota Bengawan dan Indonesia cukup dirindukan Amalia selama merantau ke negeri orang.

Belum lagi kerinduan akan keluarga besar dan suasana lingkungan Ramadan yang sangat kental. 

"Di sini tidak ada suara 'imsyak....imsyak' atau orang yang membangunkan sahur keliling kompleks. Kalau di Solo kan masih ada. Yang paling dikangenin lagi itu azan, di sini kita dengarnya dari handphone," sambungnya.

Australia sekarang memasuki peralihan musim dari panas ke gugur. Terkadang Amalia masih merasakan hawa panas, tapi terkadang tiba-tiba menjadi dingin sekali. Syukurnya, masa-masa peralihan ini tidak menjadi kendala bagi Amalia dan keluarga.

"Dari udara memang lebih segar di sini. Mungkin tubuh menyesuaikan panas-dinginnya itu namun tidak sampai bikin sakit," ujarnya.

Puasa di Australia pun hanya lebih lama sekitar satu jam dengan Indonesia. Di awal-awal puasa, Amalia memulai sahur pukul 04.00. Kemudian berbuka mulai pukul 19.00 malam.

"Tapi semakin kesini semakin memendek waktunya. Sekarang azan Subuh jam lima kurang seperempat bahkan kurang sepuluh menit malah hari ini. Terus Magrib pukul tujuh kurang seperempat," sebutnya.

Ada musala di sekitar tempat tinggal Amalia. Kebetulan pengelolanya adalah komunitas orang-orang Indonesia.

Di kampus juga ada asosiasi mahasiswa Muslim yang mana setiap hari mengadakan buka bersama gratis. Hanya saja, syaratnya harus mendaftar dua hari sebelumnya.

"Pengelolanya seperti kebanyakan Timur Tengah. Jadi menunya itu setiap hari nasi biryani, kayak kebuli juga. Cuma lauknya berbeda-beda. Kadang ayam, sapi, kambing, kadang dibentuk seperti bola-bola daging gitu," paparnya.

Beberapa waktu lalu, komunitas Indonesia diberi kesempatan untuk mengelola dan menyiapkan menu buka bersama. Pada 9 Maret lalu, Amalia kembali merasakan menu khas Indonesia. Seperti bakso hingga opor.

"Jadi sempat kami mencicipi bakso dan ada nasi opor ayam. Dan itu tiketnya hanya dalam waktu 10 menit sudah langsung habis," lanjutnya.

Ya, Amalia melakukan war tiket untuk bisa turut meramaikan buka bersama. Setiap 10 menit, tangan Amalia bersigap dan menengok apakah pendaftaran sudah dibuka atau belum. 

"Tiap 10 menit cek, alhamdulillah bisa dapat saya dan keluarga. Seru juga war tiket untuk berbuka. Selama Ramadan ini, mungkin 4-5 kalian kami tidak mendapat tiket. Kadang kehabisan jadi buka puasa di rumah," lanjutnya.

Soal salat Tarawih, Muslim Student Assosiation di sana mereka mem-booking salah satu fasilitas di kampus. Seperti cafe, karena di Australia rata-rata pukul 17.00 sudah tutup.

"Toko-toko sebagian besar jam 5 sore sudah tutup. Nah inilah yang dipakai asosiasi untuk buka bersama dilanjutkan salat Tarawih bersama," sambungnya.

Itulah keseruan Amalia dan keluarga saat menjalani Ramadan di Australia. Ramadannya tahun ini di Australia lebih ramai dan hangat dibanding dahulu saat merantau pada 2010 silam. (nis/bun)

Editor : Damianus Bram
#puasa #Nur Amalia #australia #ramadhan #dosen