Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Daundala Awicarita, Seni Terapi Berbasis Daun ala Prapti Alpandi yang Menyentuh Hati

Antonius Christian • Senin, 17 Maret 2025 | 02:28 WIB

 

Prapti Alpandi menggoreskan lukisan di atas daun kering. (A Christian/Radar Solo)
Prapti Alpandi menggoreskan lukisan di atas daun kering. (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM -Kreativitas memang tidak mengenal batas. Hal itu tergambar jelas dalam karya seni unik Prapti Alpandi. Bukan di atas kanvas atau kertas, tetapi di atas sehelai daun. Kepekaannya terhadap alam, memacu perempuan asal Temanggung ini mengubah daun yang biasa gugur menjadi media ekspresi seni dan terapi jiwa.

Pprapti tampak fokus menggambar di atas daun kupu-kupu. Motif-motif bernuansa alam muncul dalam goresan lembutnya. Baginya, menggambar di atas daun bukan sekadar seni, tetapi juga jalan panjang menuju penyembuhan diri.

"Pada 2014, saya didiagnosis mengalami penyempitan pembuluh darah ke ginjal. Saat itu saya merasa hidup saya hancur," kisahnya kepada koran ini ditemui di kawasan Ngarsopuro.

Namun, alih-alih tenggelam dalam keterpurukan, Prapti justru menemukan cara untuk bangkit melalui seni. Pada 2015, ia mulai menekuni seni menggambar di atas daun, memanfaatkan bakat seni dan latar belakang pendidikannya di Biologi.

"Saya dulu pernah meneliti kupu-kupu saat kuliah. Jadi saya terbiasa memperhatikan detail keindahan alam. Dari situ, saya tertarik mencoba menggambar di atas daun," ungkapnya.

Tak semua daun bisa menjadi kanvas. Prapti memilih daun kupu-kupu dan daun bodhi karena teksturnya yang kuat dan seratnya yang tidak mudah hancur meski sudah kering. Sebelum siap digunakan, daun-daun tersebut melalui proses panjang: direndam, disikat, lalu dikeringkan selama tiga minggu hingga menjadi media yang sempurna untuk menggambar.

"Daun ini sangat unik dan serbaguna. Bisa dilukis pakai pulpen, cat, atau bahkan hanya dengan pensil," jelasnya.

Pada 2017, Prapti melangkah lebih jauh dengan menciptakan konsep seni terapi bernama "Daundala Awicarita".

"Daundala" berasal dari gabungan kata "daun" dan "mandala", sementara "Awicarita" dalam bahasa Sanskerta berarti "ayo bercerita". Melalui seni ini, saya ingin mengajak orang untuk merefleksikan diri dan menyalurkan perasaan mereka ke dalam gambar," ujarnya.

Berbekal pengalaman pribadi dalam menghadapi tantangan hidup, Prapti kini membuka kelas privat menggambar di atas daun. Namun, yang diajarkan bukan hanya teknik menggambar, melainkan proses refleksi diri melalui seni.

"Saya tidak mengajarkan teknik melukis yang rumit. Saya hanya mengajak mereka mengenali perasaan mereka sendiri, lalu mengekspresikannya di atas daun," katanya.

Setiap sesi bukan sekadar kelas seni, tetapi juga wadah berbagi cerita dan penyembuhan diri. Peserta diajak untuk mengungkapkan perasaan mereka, baik dalam bentuk cerita maupun lukisan.

"Hasil lukisan di daun ini pasti berbeda-beda, karena setiap orang menggambar berdasarkan apa yang mereka rasakan saat itu," tutur Prapti.

Bagi Prapti, self-healing bukan hanya tentang mencari ketenangan, tetapi juga menerima diri sendiri. Dengan membagikan metode terapi ini, ia berharap seni bisa menjadi jembatan bagi orang lain dalam perjalanan mereka menemukan kedamaian batin.

"Saya ingin berbagi apa yang saya temukan. Saya ingin orang lain juga merasakan manfaat terapi seni seperti yang saya alami," tuturnya. (atn/bun)

 

 

Editor : Kabun Triyatno
#terapi #karya seni #daun #jiwa