Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jupuk Wakul, Bazar Ramadan yang Jadi Simbol Keberagaman dan Kebersamaan di Kepatihan Kulon Solo

Silvester Kurniawan • Kamis, 20 Maret 2025 | 03:11 WIB
Pendeta Obaja Tanto Setiawan berbincang akrab dengan para pedagang di Bazar Ramadan. (Silvester Kurniawan/Radar Solo)
Pendeta Obaja Tanto Setiawan berbincang akrab dengan para pedagang di Bazar Ramadan. (Silvester Kurniawan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di Kampung Kepatihan Kulon, toleransi bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari keseharian. Bazar Ramadan Jupuk Wakul menghadirkan harmoni, di mana pedagang muslim dan nonmuslim berdampingan, berbagi rezeki, dan saling mendukung.

Suasana sore di Kampung Kemasan Asli, Kelurahan Kepatihan Kulon, terasa begitu hidup. Lintasan jalan pinggir kali yang biasanya lengang, kini disulap menjadi pusat keramaian.

Di sana, deretan lapak berwarna-warni berdiri rapi, dipenuhi aneka hidangan berbuka puasa. Senyum hangat para pedagang menyambut para pembeli yang datang dari berbagai latar belakang, tanpa memandang agama atau kepercayaan.

Bazar kuliner Ramadan yang diberi nama Jupuk Wakul (Unjuk Potensi Usaha Kecil Warga Kelurahan Kepatihan Kulon) bukan sekadar tempat jual beli. Lebih dari itu, ia menjelma sebagai simbol keberagaman yang nyata. Berbeda iman tak menghalangi warga untuk berbagi dan merayakan kebersamaan di bulan suci ini.

Dulunya, lokasi ini hanyalah sebidang tanah kosong yang tak terurus, sekadar tempat parkir kendaraan warga. Namun, berkat inisiatif warga setempat dan dorongan Ketua LPMK Kelurahan Kepatihan Kulon Debora Novi, tempat ini kini berubah menjadi bazar kuliner yang merangkul semua orang.

“Sebetulnya ini sudah kami inisiasi sejak tahun lalu. Kebetulan kelurahan kami minim lahan, jadi kami manfaatkan pinggir kali di Kampung Kemasan Asli ini,” ujar Debora saat berbincang dengan Radar Solo.

Uniknya, meski bazar ini diselenggarakan dalam rangka Ramadan, sebagian besar pedagangnya adalah warga nonmuslim. Ini bukan sesuatu yang aneh di Kepatihan Kulon. Kampung ini memang dikenal dengan semangat toleransi yang tinggi. Warga dengan berbagai latar belakang agama terbiasa hidup rukun, berbagi ruang, dan saling menghormati.

Salah satu momen yang menggambarkan eratnya hubungan lintas agama di kampung ini adalah ketika seorang pendeta datang berbelanja di bazar. Dengan senyum ramah, ia menyapa para pedagang satu per satu, bahkan membeli satu menu dari setiap gerai yang ada.

“Saya melihat hal seperti ini merupakan langkah yang baik dalam menggalang persatuan antarumat beragama dan antar masyarakat,” ujar Obaja Tanto Setiawan, pendeta GBI Keluarga Allah, Widuran, Solo.

Tidak hanya sekadar membeli, sang pendeta juga mendoakan agar para pedagang mendapat rezeki yang melimpah selama Ramadan. Keakraban itu pun semakin terasa ketika para pedagang yang mengenakan hijab berbincang akrab dengannya, berbagi cerita tentang keseharian mereka.

 “Kami yang muslim menjalankan ibadah puasa, teman-teman Kristiani juga tengah menjalankan puasa Paskah. Meski aturan puasanya berbeda, kami di sini tetap saling menghargai. Bahkan, kami bisa berbuka bersama dalam satu meja, meski keyakinan kami berbeda,” katanya.

Jupuk Wakul bukan hanya tentang transaksi ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menjaga kerukunan dalam keberagaman. Pemandangan pedagang berkalung salib yang berbagi tempat dengan mereka yang mengenakan hijab, atau pembeli dari berbagai agama yang duduk bersama menikmati takjil, adalah bukti nyata bahwa toleransi bukan sekadar slogan. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#muslim #nonmuslim #bazar ramadan #lintas agama