RADARSOLO.COM - Sebuah kompleks bangunan menyerupai makam, berdiri di tepi Jalan Solo-Jogja, tepatnya di Dusun Penggung, Desa Jambukulon, Kecamatan Ceper, Klaten.
Bangunan itu disebut warga sebagai petilasan untuk persinggahan jenazah raja-raja dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang hendak dimakamkan ke Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).
Kompleks bangunan itu berada di persimpangan jalan berbentuk segitiga. Dikelilingi tembok setinggi 1,5 meter, sehingga masih terlihat jelas bagian dalamnya oleh pengguna jalan yang melintas.
Di dalam petilasan ini, terdapat bangunan berbentuk cungkup, luasnya 2 x 3 meter. Di cungkup tersebut memiliki sebuah pintu dari kayu.
Menurut pengakuan warga sekitar, di dalam cungkup terdapat kuburan sederhana berlantai keramik. Namun, tidak ada jenazah yang dikubur.
Menariknya lagi, ada tradisi yang masih terjaga sampai saat ini. Pasangan pengantin baru wajib mengelilingi petilasan itu sebanyak tiga kali.
Nah, di putaran terakhir, pasangan pengantin harus memetik daun dari pohon beringin yang tumbuh di kompleks tersebut. Setelah itu disimpan dan dibawa pulang.
Tak ada warga yang mengetahui secara pasti, terkait ritual mengelilingi petilasan tersebut. Termasuk memetik daun beringin di sana.
“Itu sudah menjadi tradisi warga secara turun-temurun. Kalau sampai dilanggar, takutnya kenapa-kenapa. Percaya nggak percaya,” kata warga sekitar yang enggan disebut namanya.
Biasanya, tradisi ini dilakukan pasangan pengantin baru pada siang hari. Biasanya setelah prosesi pernikahan. “Saat keliling itu, pengantinnya tetap memakai pakaian pernikahan,” imbuhnya.
Sementara itu, pegiat cagar budaya asal Klaten Hari Wahyudi menjelaskan, petilasan tersebut merupakan rumah singgah jenazah sebelum masa Pakubuwono (PB) X, yang hendak dimakamkan di Imogiri. Informasi yang didapatnya, baru sekali saja digunakan untuk persinggahan.
“Di Klaten ada tiga persinggahan. Masing-msing di Tegalgondo, Penggung, dan Prambanan. Seumpama kalau jenazah raja Keraton Solo kehujanan, diinapkan dulu di persinggahan. Contohnya saat tiba di Delanggu hingga Klaten, singgahnya ya di Penggung,” urai Hari.
Hari menjelaskan, dulu jenazah, sebelum masa PB X diangkut kereta kuda. Diiringi prajurit, abdi dalem, dan rakyat.
“Memang pakemnya seperti itu. Harus berhenti dulu di persinggahan jenazah. Sepertinya di Prambanan sempat diinapkan semalaman. Supaya para pembawa jenazah dan kuda-kudanya ikut istirahat,” beber Hari.
Sayangnya, Hari tidak memiliki catatan terkait tradisi yang berjalan di petilasan Penggung. Namun dari cerita yang beredar, jenazah diberangkatkan saat cuaca tidak terlalu terik. Juga tidak turun hujan.
“Jadi cuacanya redup saja. Banyak keanehan yang terjadi saat memberangkatkan jenazah menuju Imogiri. Entah benar atau tidaknya, saya tidak tahu. Tetapi ceritanya seperti itu,” papar Hari. (ren/fer)
Editor : Damianus Bram