Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Luxy Nabela Farez, Menyalakan Obor Perjuangan Perempuan dari Solo untuk Dunia

Fauziah Akmal • Selasa, 8 April 2025 | 02:40 WIB
Luxy Nabela Farez perjuangkan hak-hak perempuan di kancah global di University of Nebraska at Omaha (UNO). (Ist)
Luxy Nabela Farez perjuangkan hak-hak perempuan di kancah global di University of Nebraska at Omaha (UNO). (Ist)

RADARSOLO.COM - Di tengah berbagai dinamika sosial dan budaya yang masih kerap menyisakan ketimpangan gender, Luxy Nabela Farez muncul sebagai salah satu sosok penggerak perubahan. Sarjana komunikasi ini telah lama berkecimpung dalam gerakan feminisme interseksional, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Luxy adalah pendiri sekaligus direktur Program Pusat Kajian Perempuan Solo (PUKAPS), sebuah gerakan kolektif perempuan yang telah aktif sejak 2017. Melalui PUKAPS, Luxy bersama komunitasnya berfokus pada edukasi dan advokasi isu-isu perempuan. Terutama dalam hal kekerasan seksual serta hak kesehatan seksual dan reproduksi.

“Awalnya kami berbasis edukasi, menyediakan forum diskusi dan kajian, serta merebut ruang di media sosial untuk menyampaikan nilai-nilai feminis,” jelasnya.

Seiring waktu, gerakan ini berkembang menjadi wadah pelaporan kasus kekerasan dalam pacaran, sekaligus advokasi di ranah kebijakan publik. Sebagai konsultan manajemen proyek dan komunikasi, Luxy dikenal dengan kemampuannya dalam perencanaan strategis, membangun komunikasi lintas sektor, serta menjalin keterlibatan pemangku kepentingan. Luxy berkomitmen kuat untuk memajukan kesetaraan gender dan keadilan sosial melalui pendekatan feminisme yang inklusif.

“Di era postmodern, feminisme tidak hanya liberal atau radikal, tetapi juga interseksional. Artinya, kita harus melihat permasalahan perempuan dalam konteks yang lebih luas, termasuk hak disabilitas, lingkungan, dan kelompok marginal lainnya,” paparnya.

Jejak Luxy dalam kancah global pun tak terbantahkan. Luxy pernah menerima Small Seed Grants Action Plan Project dari YSEALI dan institusi mitra di Amerika Serikat, yakni University of Nebraska at Omaha (UNO) dan Arizona State University (ASU).

Selain itu, Luxy menjadi bagian dari Digital Sexuality Education Asia Pacific Consultant, serta tengah menjalani studi S2 di Jerman dalam bidang manajemen organisasi nirlaba.

PUKAPS, di bawah kepemimpinannya, terus memperluas jangkauan melalui kerja sama internasional. Salah satunya dengan organisasi di Timor Leste untuk proyek edukasi seksual. PUKAPS juga berjejaring dengan Southeast Asian Feminist Action Movement (SEAFAM) yang mempertemukan para aktivis dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Kendati demikian, perjuangan Luxy dan timnya tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah internalisasi nilai-nilai patriarki di masyarakat, termasuk di kalangan perempuan sendiri.

“Kami memahami bahwa banyak yang masih berada dalam spektrum nilai patriarki yang terinternalisasi. Justru di sinilah tugas kita untuk terus mengedukasi dengan cara yang lebih strategis dan inklusif,” tegasnya.

Luxy meyakini perjuangan menuju kesetaraan harus dilakukan secara kolektif. Dengan banyaknya komunitas dan organisasi yang bergerak di isu perempuan, maka masing-masing bisa mengambil peran untuk menyuarakan persoalan-persoalan yang muncul.

Bagi Luxy, perjuangan feminisme bukanlah perjuangan yang memecah belah, melainkan merangkul. “Kita butuh sekutu, bukan musuh. Feminisme bukan untuk melawan laki-laki, tapi untuk memastikan kita semua perempuan, laki-laki, dan kelompok marginal dapat hidup setara, damai, dan saling menghormati,” tandasnya. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#gender #perempuan #obor