Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kegigihan Dosen UNS Solo Putri Indah Nazareta Teliti Esports dalam Membangun Ekosistem Digital yang Sehat

Mannisa Elfira • Rabu, 9 April 2025 | 03:15 WIB
Putri Indah tak menyerah untuk meneliti esport secara ilmiah. (Ist)
Putri Indah tak menyerah untuk meneliti esport secara ilmiah. (Ist)

RADARSOLO.COM - Di tengah derasnya arus digital dan berkembangnya industri esports di Indonesia, masih ada tantangan besar untuk membangun ekosistem yang sehat dan diterima luas oleh masyarakat. Salah satu sosok yang menapaki jalur itu adalah Putri Indah Nazareta, akademisi Solo yang konsen di esport.

Sejak awal 2000-an, dosen Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret (UNS), yang akrab disapa Zara ini sudah bergelit dengan dunia video game. Mulai dari Nintendo, Play Station, hingga game online seperti Point Blank dan Dota, dunia virtual menjadi teman pengisi waktu luangnya.

Namun semua berubah sejak 2016, ketika ia menyadari bahwa game tak lagi hanya sekadar hiburan, melainkan juga memiliki potensi serius dalam bidang olahraga dan bisnis.

“Saya melihat ada celah besar, game bisa menjadi jalan baru, tapi butuh pendekatan yang benar,” ujar Zara.

Pada 2017, Zara memutuskan meneliti esports secara akademik. Saat itu, usulan tersebut sempat diragukan oleh para pembimbing karena dianggap terlalu “asing” untuk ranah olahraga formal. Namun Zara tak menyerah. Ia mengumpulkan puluhan jurnal dan data pendukung sebelum akhirnya proposalnya disetujui.

“Salah satu dosen saya, Dr. Didi Sunadi, bilang: ‘Yang paling tahu tentang penelitianmu adalah dirimu sendiri’. Itu menjadi kalimat yang terus saya pegang,” kenangnya.

Penelitiannya yang berjudul Kajian Profil Antropometri dan Program Kebugaran yang Diterapkan pada Atlet Esports IeSPA Tahun 2020 menemui banyak tantangan. Pandemi Covid-19 membuatnya kesulitan mengakses organisasi e-sports dan mewawancarai atlet. Bahkan ia harus bolak-balik Jakarta–Bandung hanya untuk mencari kantor yang alamatnya sering kali salah atau kosong karena WFH.

Namun kerja kerasnya tak sia-sia. Ia akhirnya berhasil mendapatkan data langsung dari Sekjen IeSPA, satu-satunya organisasi esports nasional yang saat itu bisa dijangkau.

Kini, Zara tengah menekuni bidang sports business and technology dan menjadikan esports sebagai bagian dari pengembangannya. Namun menurutnya, tantangan tidak berhenti di kampus. Salah satu tantangan besar justru berada di lapangan: meyakinkan masyarakat bahwa esports bisa membawa nilai positif jika dikelola dengan benar.

“Promosi esports sudah luas, tapi edukasi mendalam masih minim. Harus ada pendampingan, pembinaan, serta kolaborasi dengan sekolah dan pemuka masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi yang dilakukan oleh praktisi dan akademisi e-sports secara terstruktur, agar tidak hanya menyasar kota besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah.

Zara menekankan pentingnya komitmen antar-stakeholder—akademisi, pemerintah, komunitas, dan industri—untuk membentuk ekosistem esports yang sehat, produktif, dan etis. Menurutnya, dengan pendekatan yang tepat, esports bisa menjadi ruang tumbuh yang aman bagi generasi muda.

“Bukan berarti esports bebas dari risiko. Tapi di sinilah peran kita: membimbing, bukan menghakimi,” ujarnya.

Lewat dedikasi akademis dan pendekatan sosial, Zara membuktikan bahwa esports bukan sekadar ruang kompetisi digital, melainkan peluang edukatif dan transformasi budaya yang masih sangat luas untuk digali. (nis/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#game #uns #esport #digital #akademik