Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Lebih Dekat dengan Sosok Harsini, Perempuan di Balik Napas Panjang Wayang Orang Sriwedari Solo

Mannisa Elfira • Selasa, 15 April 2025 | 03:40 WIB
Harsini, sutradara Wayang Orang Sriwedari. (Manisa Elfira/Radar Solo)
Harsini, sutradara Wayang Orang Sriwedari. (Manisa Elfira/Radar Solo)

RADARSOLO.COM  - Sejak kecil hingga kini, Harsini hidup dan tumbuh bersama Wayang Orang Sriwedari. Dari penonton di balik panggung, menjadi pemain, hingga kini menjabat sutradara, perempuan asal Solo ini mendedikasikan hidupnya menjaga nyawa kesenian tradisi yang nyaris dilupakan zaman.

Rembulan  menggantung tenang di langit Kota Bengawan, Rabu (9/4) malam. Di tengah arus lalu lalang masyarakat yang menanti pertunjukan Wayang Orang Sriwedari dimulai, seorang perempuan duduk tenang di salah satu bangku dalam gedung. Tatapannya penuh kenangan.

Perempuan itu adalah Harsini, seniman dan sutradara yang telah melekat erat dalam sejarah panjang Wayang Orang Sriwedari. Wanita kelahiran Solo, 14 Mei 1972, ini tak hanya menyaksikan, tapi juga tumbuh dan hidup bersama panggung yang telah menjadi denyut budaya Kota Solo itu.

"Sudah dari tahun 90-an saya aktif di sini," ujar Harsini, mengenang awal mula keterlibatannya.

Darah seni mengalir dalam keluarganya. Dari kakek, orang tua, hingga dirinya sendiri, semua berkelindan dengan dunia wayang orang. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan panggung dan deretan kostum warna-warni di balik layar.

"Kami ini tiga generasi. Dari simbah, bapak, ibu, hingga saya. Semua terlibat dalam Wayang Orang Sriwedari," kisahnya.

Harsini kecil belajar bukan dari kursus atau pelatihan, melainkan dari mengamati. Setiap malam, saat orang tuanya tampil, ia menyimak dari balik tirai panggung. Ia menghafal dialog, menyerap gestur, dan mencermati emosi para pelakon.

"Belajarnya dari pinggir. Ketika nanti saya didapuk main, saya sudah tahu harus bagaimana," ujar Harsini dengan mata berbinar.

Zaman dulu, pertunjukan wayang orang bisa berlangsung dari pukul 20.00 hingga lewat tengah malam. Tanpa naskah cetak, para pemain bermain sepenuh hati. Candaan terlontar alami, interaksi terasa akrab, dan penonton memadati gedung bahkan sampai harus menyewa kursi tambahan di luar jendela kawat panggung Sriwedari.

“Dulu wayangnya benar-benar bisa menghidupkan cerita. Gaya ngomongnya ngalir, enggak dibuat-buat. Candaannya juga sopan,” kenang Harsini.

Menjadi pemain wayang orang tidak mudah. Ekspresi wajah, mimik, dan gerak tubuh harus sejalan dengan emosi lakon. Dan tidak jarang, Harsini dituntut memainkan peran utama tanpa sempat memahami cerita sebelumnya.

“Zaman dulu enggak ada grup WhatsApp yang bisa dipakai share naskah. Baru datang, absen, lalu nama kita dicatat. Setengah delapan malam, baru tahu peran apa yang kita mainkan,” tuturnya.

Rasa grogi adalah hal biasa. Meski sudah puluhan tahun tampil, Harsini tetap bisa gugup jika ada keraguan atau adegan tak sesuai ekspektasi. Namun, solusi harus cepat dicari di tengah pentas. “Yang penting tetap tenang dan improvisasi,” katanya.

Sejak 2019, Harsini menapaki peran baru sebagai sutradara. Tantangan kali ini berbeda. Ia tak lagi sekadar memainkan cerita, tapi harus merancangnya.

"Kalau dulu tinggal main, sekarang harus mikir cerita dari awal. Cari ide, cari sanggit," katanya.

Sanggit adalah seni menyusun alur cerita. Ia harus membuat kisah lama menjadi segar kembali. Menghindari pengulangan dan memastikan semua adegan nyambung, meski tidak ada waktu untuk latihan.

“Di sini enggak ada yang namanya latihan. Tapi kami tetap menyelaraskan. Supaya tidak ada yang salah paham saat tampil,” terangnya.

Bagi Harsini, Wayang Orang Sriwedari bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah napas, memori, dan panggilan jiwa. Di panggung itu, ia bukan hanya menyampaikan cerita, tapi menjaga nyala tradisi yang terus menua namun tak ingin padam. (nis/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#panggung #pertunjukan #wayang orang sriwedari