Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Perang Diponegoro: Simbol Nasionalisme dalam Perlawanan Melawan Belanda

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 16 April 2025 | 01:40 WIB
Ilustrasi perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.
Ilustrasi perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

RADARSOLO.COM-Perang Diponegoro, yang juga dikenal sebagai Perang Jawa II, merupakan puncak dari perjuangan rakyat Jawa melawan penjajahan Belanda.

Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan ini dengan semangat nasionalisme dan agama yang sangat kuat.

Perang ini menjadi simbol pertahanan terakhir oleh pemimpin Jawa yang berprinsip melawan dominasi Belanda.

Latar Belakang Perang Pangeran Diponegoro lahir pada November 1785 sebagai putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono III dan selir Raden Ayu Mangrawati.

Ketidaksukaan Pangeran Diponegoro terhadap pemerintahan Hindia Belanda dimulai dengan campur tangan mereka dalam urusan keraton.

Pemerintah Belanda terlalu banyak mengontrol urusan takhta kesultanan, yang akhirnya memicu ketidakpuasan Pangeran Diponegoro.

Puncaknya adalah saat Belanda merencanakan pembangunan jalan di tanah leluhur Pangeran Diponegoro, yang membuatnya marah dan memutuskan untuk berperang.

Pada tahun 1825, Pangeran Diponegoro secara resmi mengangkat senjata melawan pemerintahan Hindia Belanda dan kesultanan yang dianggap telah menjadi boneka Belanda.

Pemberontakan ini memicu perang besar yang menguras banyak sumber daya dari Belanda.

Perjuangan dan Dukungan Pemberontakan Pangeran Diponegoro mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan, seperti ulama, masyarakat pedesaan, dan kalangan kesultanan.

Wilayah peperangan meliputi daerah-daerah seperti Bagelan, Lowanbenteng Stelsel, Kedu, Parakan, Yogyakarta, Sambiroto, Gunung Kidul, Pajang, dan Sokwawati, dengan Selorong sebagai markas utama.

Salah satu aspek yang membedakan perang ini adalah struktur kewilayahan yang digunakan, yaitu Kaedanan dan Kedamangan, yang mirip dengan sistem yang digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat ini.

Baca Juga: Gubernur Jateng Bangun Zonasi Sampah Regional untuk Mengatasi Persoalan TPA di 35 Kabupaten/Kota, Begini Teknisnya

Prinsip perjuangan Pangeran Diponegoro yang berbunyi "Sadumuk bathok, senyari bumi kudu ditohi tekan Pati", yang berarti "sejengkal tanah harus dibela sampai mati", menjadi semboyan bagi pasukan dan masyarakat yang mendukungnya.

Taktik Gerilya dan Strategi Benteng Stelsel Pangeran Diponegoro menggunakan taktik gerilya yang sangat efektif.

Serangan cepat dan berpindah-pindah menjadi taktik utamanya untuk menghindari serangan balik dari Belanda dan agar pasukannya tetap bebas bergerak.

Sebagai balasan, Belanda yang dipimpin oleh Jenderal De Kock menerapkan strategi Benteng Stelsel, membangun benteng di seluruh wilayah yang dikuasai untuk membatasi pergerakan pasukan Diponegoro.

Meskipun menghadapi taktik ini, Pangeran Diponegoro tetap bertahan dan melawan dengan ketangkasan.

Kekalahan dan Pengasingan Setelah bertahun-tahun perlawanan, Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap pada tahun 1830 dan dibuang ke Makassar.

Meskipun perang ini berakhir dengan kekalahan bagi Pangeran Diponegoro, taktik yang digunakan oleh pasukannya, seperti taktik rakyat Permesta dan gerilya, diadopsi oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1945 hingga 1949.

Warisan dan Pengaruh Perang Diponegoro bukan hanya menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan Belanda, tetapi juga memberikan dasar bagi perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

Prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Pangeran Diponegoro dan perjuangannya yang melibatkan rakyat tetap relevan dengan semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pangeran Diponegoro dikenang sebagai pahlawan nasional yang berjuang tanpa kenal lelah untuk mempertahankan kemerdekaan dan martabat tanah air, dan perjuangannya terus menginspirasi bangsa Indonesia dalam perjalanan menuju kemerdekaan yang lebih kuat. (arya/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#perang jawa #pangeran diponegoro