Perjalanan Sukses Bisnis Kurma Ismail: Dari Lapak Sederhana ke Impor 25 Ton dari Timur Tengah

Maulida Afifa Tri Fahyani • Dipublikasikan Jumat, 18 April 2025 | 02:58 WIB
Ismail konsisten menekuni bisnis kurma yang diimpor dari Timur Tengah. (Maulida Afifa/Radar Solo)
Ismail konsisten menekuni bisnis kurma yang diimpor dari Timur Tengah. (Maulida Afifa/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM - Ismail Miralbie sukses bangun bisnis kurma impor sejak 2011. Kini jadi pedagang kurma terlaris di Pasar Kliwon, Solo ini mampu menjual hingga 25 ton saat Lebaran kemarin.

Nama Ismail Miralbie, 36, bukanlah sosok asing di kalangan pencinta kurma di Solo. Keuletannya membangun bisnis kurma impor sejak 2011 telah mengantarkannya sebagai salah satu pedagang kurma paling dikenal di kawasan Pasar Kliwon. Saat Ramadan atau Idul Fitri tiba, lapaknya selalu jadi jujugan utama pembeli dari berbagai penjuru kota.

Kisah sukses Ismail bermula dari tekad sederhana—meneruskan usaha keluarga yang sebelumnya berdagang kurma di kota lain. Ia mengawali langkah dengan menjajakan hanya tiga hingga lima jenis kurma. Namun berkat kejelian dan ketekunan, bisnisnya berkembang menjadi jaringan distribusi skala besar yang kini menawarkan lebih dari 20 jenis kurma dari berbagai negara Timur Tengah.

“Awalnya hanya coba-coba. Takut kalau nggak dicoba, ya nggak akan tahu hasilnya. Alhamdulillah, sekarang bisa berkembang pesat,” ujar Ismail saat ditemui di salah satu outletnya, Senin (10/3).

Tahun 2015 menjadi titik tolak pertumbuhan pesat usahanya. Ia mulai memberanikan diri mengimpor kurma langsung dari Mesir, Arab Saudi, Tunisia, hingga Irak. Jenis kurma favorit konsumen seperti kurma Mesir, Sukari, dan kurma Arab kini menjadi andalannya.

Namun, perjalanan membangun bisnis kurma impor tak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah menjaga kualitas produk selama proses pengiriman lintas negara.

“Kurma itu sangat rentan kutu, apalagi perjalanan dari Timur Tengah bisa sebulan lebih. Kadang kutu muncul di pelepahnya. Solusinya, kami simpan cepat-cepat di kulkas agar kutu mati,” jelasnya.

Selain kendala teknis, fluktuasi harga global juga menjadi tantangan tersendiri. Kenaikan ongkos impor dan nilai tukar rupiah sering kali memicu naiknya harga kurma di pasaran.

“Harga bisa naik Rp 5.000 per kilogram. Bahkan untuk jenis tertentu, bisa naik sampai Rp 20.000 per karton. Tapi permintaan tetap tinggi, apalagi saat Ramadan dan Lebaran,” tambahnya.

Momentum Ramadan dan musim haji memang menjadi masa panen bagi Ismail. Saat permintaan meningkat drastis, penjualan kurmanya bisa mencapai 20–25 ton. Meski tahun ini sedikit menurun dibanding tahun lalu yang menembus angka 30 hingga 40 ton, ia tetap bersyukur bisnisnya berjalan lancar.

“Ramai terus saat musimnya, walau memang tahun ini turun. Tapi ya tetap kami syukuri karena toko tetap jadi rujukan banyak orang,” ujarnya.

Keberhasilan bisnis Ismail tak lepas dari kemampuannya membina relasi yang baik dengan sesama pedagang dan komunitas pemasok. Ia juga percaya bahwa keberkahan bisnis tak hanya datang dari strategi dagang, tapi juga dari keikhlasan berbagi, seperti rutin menyedekahkan kurma—sesuatu yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

“Menjaga relasi itu penting. Jangan merasa paling unggul sendiri. Kita juga bisa dapat info stok kurma bagus kalau relasi dijaga baik,” ujarnya.

Bagi Ismail, bisnis bukan semata soal untung rugi. Lebih dari itu, ia menjadikan usahanya sebagai jalan ibadah, membangun jejaring, dan menyebar manfaat. Dari langkah kecil menjual tiga jenis kurma, kini ia sukses memimpin bisnis yang mampu menjual puluhan ton kurma tiap tahunnya—sebuah perjalanan yang sarat inspirasi dan bukti nyata dari kekuatan ketekunan. (ul/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
lebaran kurma timur tengah pedagang