Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Menelusuri Selokan Mataram: Kanal Sejarah Peninggalan Jepang yang Menjadi Sumber Kehidupan Petani Yogyakarta

Damianus Bram • Kamis, 24 April 2025 | 00:31 WIB
Selokan mataram, saluran air yang membentang di Yogyakarta. Menghubungkan Kali Progo dengan Kali Opak.
Selokan mataram, saluran air yang membentang di Yogyakarta. Menghubungkan Kali Progo dengan Kali Opak.

RADARSOLO.COM – Bukan sekadar saluran irigasi biasa, Selokan Mataram adalah kanal bersejarah yang menjadi bagian penting dalam kehidupan pertanian di Yogyakarta.

Dibangun pada masa pendudukan Jepang, saluran sepanjang 30,8 kilometer ini menjadi bukti strategi cerdas Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam melindungi rakyatnya dari kebijakan kerja paksa atau romusha.

Selokan Mataram menghubungkan Sungai Progo di barat dengan Sungai Opak di timur, melintasi Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan berakhir di wilayah Sleman bagian timur.

Dari Parit Kecil Menjadi Proyek Besar

Cikal bakal Selokan Mataram berawal dari sebuah parit kecil yang dibangun pada 1914.

Namun, meningkatnya kebutuhan air untuk pertanian dan perkebunan membuat parit itu tidak lagi memadai.

Melihat hal tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengusulkan pembangunan saluran irigasi baru kepada pemerintah militer Jepang.

Dalam catatan Sujarweni (2017:120) dalam buku Menelusuri Jejak Mataram Islam di Yogyakarta, Sultan HB IX bahkan memanipulasi data kemakmuran wilayah dengan menyebutkan bahwa pengairan buruk menyebabkan gagal panen dan penderitaan warga.

Karena alasan itu, pemerintah Jepang menyetujui pembangunan kanal irigasi ini.

Pembangunan dimulai pada 20 September 1944, dengan melibatkan pemerintah Keraton Yogyakarta sebagai pengelola tenaga kerja dan administratif, sementara militer Jepang bertindak sebagai pengawas proyek.

Proyek ini tidak hanya menjadi solusi pertanian, tetapi juga strategi Sultan agar rakyatnya tidak dikirim ke luar Jawa sebagai pekerja paksa.

Ia meyakinkan Jepang bahwa daerah Yogyakarta akan lebih produktif jika tenaga romusha dikerahkan untuk membangun saluran air lokal.

Kanal Yoshiro: Nama Awal Selokan Mataram

Saluran ini awalnya diberi nama Kanal Yoshiro, dan dirancang memiliki panjang 30,8 kilometer, termasuk 52 jembatan dan terowongan sepanjang 600 meter.

Proyek ini juga melibatkan pembuatan sudetan dari Selokan Van Der Wijck di Desa Macanan, Ngluwar, Magelang, sebagai titik awal saluran.

 

Selokan Mataram kini menjadi saluran utama bagi 15.734 hektare lahan pertanian, memungkinkan sawah-sawah di wilayah Sleman dan sekitarnya tetap produktif bahkan saat musim kemarau.

Tak hanya menjadi bukti kecerdasan diplomasi seorang raja, Selokan Mataram juga menjadi warisan infrastruktur irigasi yang terus dimanfaatkan hingga kini. (arya)

Editor : Damianus Bram
#kerja paksa #kanal #jepang #Selokan Mataram #ROMUSHA #Sultan Hamengkubuwono IX #yogyakarta