Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Demam Kaset dan Vinyl Kembali di Solo, Kolekdol Ramaikan Rilisan Fisik Musik

Silvester Kurniawan • Kamis, 1 Mei 2025 | 03:42 WIB
Koleksi kaset, CD hingga piringan lawas. (Silvester Kurniawan/Radar Solo)
Koleksi kaset, CD hingga piringan lawas. (Silvester Kurniawan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di tengah gempuran era streaming digital, semangat terhadap rilisan fisik musik ternyata belum padam. Justru di Kota Solo, semangat itu tumbuh seperti bara yang terus ditiup angin kenangan. Hal ini tampak nyata dalam gelaran Record Store Coming Home #2 yang digelar di salah satu radio swasta di Solo, belum lama ini.

Aroma nostalgia, dentingan musik lawas, dan obrolan antusias para pencinta musik lintas generasi yang datang dari berbagai penjuru meramaian suasana malam itu.

Di tengah deretan meja yang dipenuhi kaset, CD, dan piringan hitam, terlihat sosok Djarot Gurova, 40, warga Banyudono, Boyolali. Matanya berbinar saat menggenggam sebuah kaset usang yang terbungkus rapi.

Sejak duduk di bangku SMP, Djarot telah jatuh cinta pada kaset pita. Awalnya, ia hanya mendengarkan koleksi ayah dan pamannya. Namun, rasa penasaran dan cinta itu tumbuh—hingga akhirnya ia membeli kaset pertamanya saat SMA: kompilasi soundtrack Robin Hood hanya karena ada lagu dari Bryan Adams.

“Dulu itu kaset cuma Rp12–15 ribu. Sekarang, kaset rilisan tahun 2000-an bisa tembus Rp300 ribu kalau kondisinya mulus. Yang limited edition bahkan bisa sampai Rp500 ribu,” ungkapnya sembari tersenyum, mengelus permukaan plastik kaset seperti benda pusaka.

Meski aktif menjual koleksinya, Djarot tak pernah menyebut dirinya pedagang. Ia menyebut dirinya sebagai kolekdol, akronim dari ‘kolektor dolan’. Baginya, menjual sebagian koleksi adalah cara untuk terus berburu dan menemukan harta karun baru.

“Saya nggak pernah hitung berapa uang yang habis. Buat saya, rasa puas dan bangga karena punya koleksi langka itu jauh lebih berharga,” ujarnya, matanya memandang jauh seolah terlempar ke masa remajanya.

Djarot juga berbagi rahasia menjaga kualitas kaset pita. Menurutnya, kaset harus diputar minimal dua bulan sekali agar tidak kaku, disimpan dalam plastik kedap udara, dan dijauhkan dari kelembapan agar tidak berjamur. Perawatan itu, katanya, sama seperti menjaga kenangan.

Berbeda dengan Djarot, Danar Wicaksono dari Alfa Omega Records memilih jalan bisnis dari kecintaannya pada rilisan fisik. Bersama rekannya, Tamtomo, ia menghadirkan kaset dan CD langka, bahkan beberapa bertanda tangan artis ternama. Bagi Danar, rilisan fisik bukan hanya barang koleksi, tapi investasi budaya.

“Biasanya pecinta musik itu akan mendigitalkan kasetnya untuk playlist pribadi, tapi fisiknya tetap disimpan. Yang dicari bukan cuma lagu, tapi informasi album, desain artwork, bahkan tekstur kertas. Semua itu punya nilai historis,” jelasnya dengan penuh semangat, sambil menunjukkan salah satu koleksi CD langka yang dijaga dalam kotak khusus.

Baca Juga: Terkuak Alasan Khamila Djibran Nekat Menjadi Joki Gantikan Dua Perserta saat UTBK SNBT

Yang mengejutkan, penggemar rilisan fisik tak lagi didominasi generasi lawas. Di sudut ruangan, terlihat anak-anak muda Gen Z yang sibuk memilah kaset. Bagi mereka, kaset dan CD bukan sekadar alat dengar, tapi juga simbol gaya hidup retro yang sedang naik daun. Tak sedikit band indie masa kini mulai kembali merilis album mereka dalam bentuk fisik, meski hanya dalam jumlah terbatas.

“Pecinta rilisan fisik itu menikmati musik sebagai pengalaman menyeluruh. Mulai dari visual sampul, aroma kertas, sampai rasa puas saat memasukkan kaset ke tape. Sensasi itu nggak bisa digantikan streaming,” tutup Danar, diiringi alunan lagu lawas yang memutar dari tape tua di pojok ruangan—menyempurnakan atmosfer yang seolah menghidupkan kembali era keemasan musik analog. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#kolektor #streaming #bisnis #kaset