RADARSOLO.COM - Tingkat literasi anak dalam membaca masih rendah. Hal ini disebabkan buku-buku yang ada kurang menggugah minat anak. Berkaca dari ini, Ahmad Fathurrohman Rustandi menciptkaan buku cerita pop up yang memotivasi anak tertarik membaca buku.
Di sebuah rumah sederhana di Bandung, kisah besar itu bermula. Setiap sore, bukan suara game atau layar gadget yang memenuhi ruang tamu Ahmad Fathurrohman Rustandi dan istrinya, Facthul Hidayah. Melainkan tawa, warna, dan rasa penasaran puluhan anak yang datang hanya untuk mendengar cerita, menggambar, dan bermain sambil belajar.
Dari ruang penuh cinta itu, benih Kreatifafa lahir—sebuah penerbit buku pop-up tiga dimensi yang kini karyanya dikenal hingga ke luar negeri.
“Awalnya kami hanya ingin membahagiakan anak-anak di sekitar rumah. Tapi saat pandemi datang, kami terpisah. Dari kerinduan itulah, kami menciptakan buku pop-up ini,” tutur Fathur, saat ditemui di pameran UMKM kawasan Ngarsopuro, Solo, Sabtu malam.
Tak seperti buku biasa, karya Kreatifafa menghadirkan pengalaman membaca yang hidup. Setiap halaman bukan hanya mengandung cerita, tapi juga aktivitas, permainan edukatif, hingga ilustrasi penuh warna yang menyatu dengan cerita. Lebih dari itu, buku mereka dirancang bersama psikolog anak, agar aman secara emosional dan mendukung perkembangan kognitif anak usia dini.
“Kami evaluasi buku kami setiap minggu bersama psikolog. Karena buku bukan cuma benda, tapi pengalaman batin,” ujar Fathur.
Tema buku-buku Kreatifafa beragam. Dari petualangan imajinatif, kisah empati, hingga cerita-cerita Quran yang disajikan dengan pendekatan ilmiah dan menyentuh. Salah satu yang paling membanggakan adalah Quran Series yang kini telah diterbitkan di Uni Emirat Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Saat ini, mereka bahkan tengah dalam proses negosiasi penerbitan di Jerman.
Yang menarik, semua ini dimulai bukan dari ambisi bisnis. Buku pertama mereka justru dicetak dalam jumlah terbatas untuk dibagikan gratis ke perpustakaan dan komunitas literasi di berbagai daerah. Respons luar biasa dari anak-anak dan orang tua kemudian menyadarkan mereka bahwa karya mereka punya potensi yang lebih besar.
"Anak-anak Indonesia bukan malas membaca. Mereka hanya belum bertemu pengalaman membaca yang menyenangkan," tegas Fathur.
Data literasi yang menyedihkan menjadi cambuk bagi mereka. Indonesia berada di posisi ke-60 dari 61 negara dalam hal literasi anak. Melalui buku pop-up interaktif yang dibuat untuk anak usia 3–8 tahun, Fathur ingin memperbaiki pengalaman pertama anak saat membaca. Karena baginya, pengalaman pertama itu menentukan segalanya.
“Sukses bukan tentang jumlah buku yang terjual. Tapi ketika anak tersenyum dan ingin membaca lagi,” ucapnya penuh keyakinan.
Di balik setiap lipatan kertas, dalam tiap bentuk tiga dimensi yang meloncat dari halaman, tersimpan visi besar yaitu menanamkan cinta membaca sejak dini. Sebab bagi Kreatifafa, buku bukan hanya untuk dibaca—tapi untuk dikenang dan dicintai. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno