RADARSOLO.COM - Di balik setiap helai pamor yang menghiasi keris, terdapat cerita panjang yang terjalin dengan keterampilan, tradisi, dan kekayaan budaya. Selama 20 tahun Kristanto menekuni seni kerajinan warisan lelulur ini.
Selama dua dekade, Kristanto telah mempelajari proses pembuatan keris. Tidak mudah karena membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pemahaman mendalam akan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Kristanto menceritakan bahwa setiap keris yang dibuat melalui berbagai tahap yang tak hanya melibatkan keterampilan tangan, tetapi juga upacara ritual yang kental dengan nuansa spiritual.
"Proses pembuatan keris dimulai dari memilih bahan, mengadakan upacara ritual, hingga tahapan finishing," ungkap pria berusia 40 tahun ini dengan penuh ketelitian.
Dalam pembuatan keris, ada tiga bahan utama yang digunakan, yaitu besi, nikel, dan baja. Sebuah keris yang dibuat dengan teliti bisa memakan waktu mulai dari 1-2 bulan, bahkan ada yang memakan waktu lebih dari setahun.
Kristanto juga menjelaskan bahwa dalam pembuatan keris, bahan meteor digunakan untuk pamor yang lebih spesial, meskipun sekarang sudah sulit untuk mendapatkannya. Sebagai penggantinya, nikel pun digunakan untuk menciptakan hasil yang mirip.
"Setelah memilih bahan yang sesuai, kita mengadakan upacara ritual sebagai pembuka proses pembuatan. Pemesan juga harus hadir untuk menyaksikan proses ini," kata Kristanto, menekankan pentingnya momen spiritual dalam pembuatan keris.
Setelah ritual, Kristanto dan timnya mulai menyusun bahan-bahan logam yang telah disiapkan. Menyusunnya dengan lipatan-lipatan yang diinginkan untuk menciptakan pamor tertentu, misalnya seperti pamor kineret yang diinginkan oleh pemesan.
"Pamor adalah karakteristik khas keris yang membedakan satu keris dengan keris lainnya," beber ahli keris yang bergabung dengan Padepokan Keris Brojobuwono di Wonosari, Gondangrejo, Karanganyar.
Pembuatan keris melibatkan berbagai profesi dengan peran khusus masing-masing. Ada empu, sopabat, panja, jurulamus, juruculik, dan sopabat yang bekerja bersama untuk menghasilkan sebuah karya keris yang sempurna.
Empu adalah pengrajin utama, sementara sopabat berfungsi menerjemahkan keinginan pemesan ke dalam bentuk fisik keris. Jurulamus berfokus pada aspek angin, sementara juruculik mengurus tungku api yang digunakan dalam pembuatan keris. Setelah keris dibentuk, proses pengasahan dimulai dengan teknik yang sangat teliti.
"Setelah dipahat, keris digosok dengan batu asah hingga selesai, kemudian dikamal, dan direndam dengan serbuk belerang dan air garam minimal 24 jam sebelum akhirnya diwarangi," kata Kristanto.
Bagi Kristanto, pembuatan keris bukan hanya soal menghasilkan sebuah barang seni, tetapi juga soal melestarikan budaya. Keris yang dihasilkan bukan hanya berfungsi sebagai senjata, tetapi juga sebagai simbol identitas dan warisan budaya yang penting.
"Keris adalah salah satu warisan nenek moyang kita. Keberadaannya harus terus dilestarikan dan dihargai oleh generasi mendatang," tuturnya penuh harap.
Dengan keterampilan dan pengalamannya, Kristanto berharap kerajinan keris terus berkembang dan mendapatkan perhatian lebih dari generasi muda. Ia juga ingin anak-anak muda belajar lebih banyak tentang proses pembuatan keris dan mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam setiap langkah pembuatan keris.
Kristanto tidak hanya membuat keris untuk konsumsi pribadi atau pasar, tetapi juga mendidik generasi muda agar mereka dapat terus mengembangkan seni pembuatan keris.
"Saya berharap kerajinan ini dapat terus berkembang dan dipelajari oleh generasi muda sehingga tidak hilang dan bisa terus dilestarikan," ujarnya. (rif/bun)
Editor : Kabun Triyatno