Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Perjuangan Pasangan Suami Istri Fajar-Ita Membuka Akses Pendidikan Anak-Anak Difabel di Pelosok Desa Karanganyar

Antonius Christian • Selasa, 8 Juli 2025 | 02:30 WIB
Fajar dan Ita bersama anak didik berkebutuhan khusus. (A Christian/Radar Solo)
Fajar dan Ita bersama anak didik berkebutuhan khusus. (A Christian/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM - Semangat Muhammad Fajar dan Ita Sulistryowato, pasangan suami istri (pasutri), menghadirkan  sekolah luar biasa (SLB) di pelosok desa di Karanganyar penuh liku. Namun keduanya tak menyerah.

Di tengah sunyinya perbukitan Desa Jatiroyo, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, sebuah bangunan sederhana berdiri dengan semangat besar untuk memberikan harapan baru. Di balik dinding sekolah yang tidak megah itu, terdengar riuh suara tawa dan canda anak-anak.

Mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus, yang hari itu tengah belajar. Namun, mereka bukanlah anak-anak yang biasa. Mereka adalah anak-anak difabel, yang bagi sebagian besar masyarakat sering dipinggirkan. Di sinilah kisah dari SLB Mandiri Putra Bangsa dimulai.

Sekolah ini didirikan oleh pasangan suami istri muda, Muhammad Fajar dan Ita Sulistyowati. Keduanya, yang merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) FKIP UNS Solo, tak hanya menganggap sekolah ini sebagai tempat belajar biasa. SLB ini adalah jawaban atas keresahan mereka tentang minimnya akses pendidikan untuk anak-anak difabel di pelosok desa.

“Awalnya kami sadar dari hasil penelitian waktu kuliah dulu banyak anak difabel di daerah-daerah seperti Jatipuro yang tidak bisa mengakses pendidikan,” kenang Fajar, kepala SLB Mandiri Putra Bangsa Jatipuro, saat ditemui di ruang kelas sederhana itu.

Mereka mendirikan sekolah pertama pada 2017 di Jumapolo, dan pada 2024, SLB Mandiri Putra Bangsa Jatipuro pun lahir. "Kami ingin membuka pintu kesempatan untuk anak-anak difabel di sini. Di desa, banyak orang tua yang awalnya pasrah dan menganggap anak mereka sebagai aib keluarga. Kami ingin mengubah pandangan itu," ujar dia.

Sekolah ini mengusung konsep yang sangat berbeda, tidak hanya fokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga pada keterampilan hidup.

“Bukan hanya mengajarkan membaca dan menulis, tetapi kami ingin anak-anak ini bisa mandiri dan berfungsi sosial. Kami mendirikan Kelompok Usaha Bersama Difabel dan program Daun (dari ABK untuk negeri), di mana anak-anak belajar membuat karya seni seperti lukisan yang kami sablon ke kaus, mug, dan tas,” terang Fajar.

Mereka juga mengembangkan Daun Farm, sebuah program agrobisnis berbasis peternakan dan pertanian. Anak-anak difabel di SLB ini belajar beternak ayam dan mengelola hasil peternakan. Setiap anak yang lulus diberi sepasang ayam untuk dikembangkan di rumah mereka.

“Ini bukan sekadar soal beternak ayam, tapi untuk memberi mereka bekal agar bisa mandiri setelah lulus,” jelas Ita.

Kurikulum di SLB Mandiri Putra Bangsa dirancang khusus untuk kondisi desa dan kebutuhan setiap anak, yang tidak dapat dipisahkan berdasarkan jenis ketunaan. Fajar menekankan, guru di sini harus siap menghadapinya dengan penuh empati dan keterampilan.

“Tidak ada pemisahan antara anak tuna rungu, autis, atau lainnya. Guru di sini harus siap menghadapi semua kebutuhan mereka,” katanya.

Dengan fasilitas terbatas, di Jatipuro terdapat lima guru, sedangkan di Jumapolo ada 11. Jumlah siswa di setiap kelas pun dibatasi maksimal enam siswa untuk SD dan delapan untuk SMP dan SMA. Ini untuk memastikan agar setiap anak mendapatkan perhatian yang cukup.

Namun, di balik segala keterbatasan itu, Fajar dan Ita tetap menaruh harapan besar pada masa depan anak-anak didik mereka. Mereka ingin SLB ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga menjadi jembatan bagi anak-anak difabel untuk lebih mandiri, baik secara sosial maupun ekonomi.

“Kami ingin sekolah ini menjadi tempat di mana mereka bisa berinteraksi, bekerja, dan hidup berdampingan dengan masyarakat. Ini adalah PR besar, tapi kami yakin pelan-pelan bisa tercapai,” ujar Fajar dengan penuh keyakinan.

Seiring berjalannya waktu, SLB Mandiri Putra Bangsa tidak hanya menghadirkan pendidikan bagi anak-anak difabel, tetapi juga membuka wawasan baru bagi masyarakat desa yang sebelumnya mungkin tidak mengerti atau bahkan enggan menerima keberadaan mereka. Kini, sekolah tersebut menjadi simbol perubahan, sebuah harapan baru bagi anak-anak difabel di Karanganyar. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#pelosok desa #pendidikan #sekolah luar biasa (slb) #difabel