RADARSOLO.COM - Nathanael Demas Ahimsa, dalang cilik asal Karanganyar, mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal melalui lakon wayang. Ia memukau penonton di Temu Dalang Bocah Nusantara dengan lakon Cupu Manik Astagina.
Di balik kelir putih yang menyinari panggung Taman Budaya Jawa Tengah, seorang anak berusia 10 tahun duduk dengan penuh konsentrasi. Ahimsa memukau penonton dengan aksinya membawakan lakon Cupu Manik Astagina dalam ajang Temu Dalang Bocah Nusantara ke-10. Di usianya yang masih belia, Ahimsa sudah menguasai seni pewayangan dengan kedewasaan yang mengesankan.
Dengan beskap warna fuchsia, batik sogan, dan blangkon Solo gaya ireng, Ahimsa tampak sangat khas sebagai seorang dalang. Tangannya lincah memainkan wayang, sementara suara khasnya menghidupkan tokoh-tokoh pewayangan dengan intonasi yang pas.
“Dalang itu prestasi saya. Supaya kalau cari sekolah nanti lebih mudah,” ucap Ahimsa dengan polos usai tampil.
Lakon Cupu Manik Astagina yang dibawakan Ahimsa memiliki pesan moral tentang pentingnya menaati orang tua. Sebagai murid kelas V SD Warga Solo, Ahimsa menganggap pesan dalam lakon tersebut sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Kalau bisa membuat lakon baru, saya akan membuat lakon yang mendidik, jangan menyia-nyiakan orang tua,” tambahnya.
Bagi Ahimsa, dunia pewayangan bukan hal yang baru. Sejak usia 3 tahun, dia sudah mengenal wayang kulit dan mulai belajar di Sanggar Sarotama.
“Dikasih mainan apa pun, nggak mau. Maunya wayang,” cerita Sujiati, ibunya, yang juga seorang dalang.
Sanggar Sarotama, tempatnya belajar, menanamkan filosofi untuk mengajarkan seni tanpa tekanan.
“Kamu suka, kamu datang, itu sudah cukup,” kenang Sujiati, mengutip filosofi dari sang pendiri sanggar, Mudjiono.
Ahimsa yang kini telah pentas delapan kali di berbagai tempat, mengaku bahwa penampilannya kali ini adalah yang paling berkesan.
“Saya berjuang lebih keras dari biasanya,” katanya.
Meski masih sibuk dengan jadwal sekolah, les mendalang, serta belajar musik dan tari Jawa, Ahimsa menjalani semuanya dengan semangat. Ia bahkan sudah belajar tentang aksara Jawa Hanacaraka dan sejarahnya lewat internet.
Sebagai seorang ibu dari keluarga besar dalang dan seniman, Sujiati mengungkapkan kebanggaannya terhadap anaknya.
“Target saya bukan supaya dia jadi artis atau terkenal, tapi supaya dia cinta budaya. Harus bisa semuanya, menabuh gamelan, menari, mendalang. Yang penting tradisi harus dijaga,” kata Sujiati dengan penuh haru.
Dengan dukungan penuh dari orang tua dan lingkungan sekitar, Ahimsa tumbuh menjadi seorang anak yang mencintai dan menghargai budaya leluhurnya. Bagi dia, seni tidak hanya sebagai ajang untuk berkarya, tetapi juga untuk menyampaikan pesan moral yang mendalam kepada masyarakat.
Ahimsa, dengan bakat dan semangat yang besar, membawa harapan baru bagi masa depan budaya Jawa. Dia bukan hanya dalang cilik yang berbakat, tetapi juga simbol dari generasi muda yang menjaga dan menghidupkan tradisi.
Di balik tangannya yang lincah memainkan wayang, ada pesan yang ingin disampaikan yaitu pentingnya menjaga dan meneruskan budaya warisan nenek moyang. (*/bun)
Editor : fery ardi susanto