RADARSOLO.COM-Lereng Gunung Lawu tak hanya memikat dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan jejak spiritual yang sarat misteri.
Salah satunya adalah Bukit Jabal Kanil, titik yang dipercaya sebagai tempat dakwah Islam pertama kali berkumandang di tanah Jawa, jauh sebelum era Wali Songo.
Terletak di Dusun Jabal Kanil, Desa Bandar Dawung, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, bukit ini bukan sekadar tempat ziarah.
Warga setempat meyakini bahwa Jabal Kanil memiliki daya tarik gaib yang membuat siapa pun merasa “dipanggil” ketika mengunjunginya.
“Setiap saya ke sini, selalu ada rasa adem dan seperti diawasi. Beda auranya. Damai, tapi sakral,” tutur Wawan Lelono, peziarah asal Solo.
Petilasan Syekh Maulana Maghribi dan Kisah Adu Kesaktian
Jantung spiritual Jabal Kanil terletak pada mushola kuno yang diyakini sebagai petilasan Syekh Maulana Maghribi, ulama asal Timur Tengah yang disebut-sebut pertama kali menyebarkan Islam di Jawa.
Mushola ini masih berdiri kokoh dengan empat tiang jati berusia ratusan tahun, dipercaya menyimpan energi gaib.
Cerita lisan masyarakat menyebutkan adanya adu kesaktian antara Syekh Maghribi dan Begawan Selapawening, penjaga gaib kawasan sebelum kedatangan Islam.
Pertarungan itu dilakukan lewat lomba memancing di sebuah telaga spiritual.
Syekh Maghribi menang setelah memancing ikan yang langsung matang—simbol keberkahan dan karomahnya.
Lokasi duel itu kini ditandai rumpun bambu Sentana atau Bambu Pamancingan yang dipercaya tumbuh dari kail pancing sang ulama.
Ribuan Peziarah Setiap Malam Jumat
Setiap malam Jumat Kliwon dan Jumat Legi, kawasan Jabal Kanil dipenuhi peziarah dari berbagai daerah hingga mancanegara seperti Belanda dan Afghanistan.
Mereka datang untuk tirakat, meditasi, ngalap berkah, atau menyepi.
“Kadang orang datang tak bicara sepatah kata pun. Langsung duduk diam, seperti terserap energi tempat ini,” ujar Samsuri, juru kunci kompleks Jabal Kanil.
Meskipun nuansa mistis kental terasa, warga dan tokoh agama mengingatkan agar ziarah tetap dilakukan sesuai syariat. Ada larangan keras mengambil serpihan kayu masjid kuno untuk dijadikan jimat.
Tak jauh dari musholla, masjid kuno yang telah direnovasi tetap mempertahankan pilar kayu asli ratusan tahun.
Pilar ini dipercaya menjadi pengikat energi spiritual kawasan tersebut.
Suasana pegunungan Lawu yang sejuk, kabut yang turun perlahan, aroma tanah basah, hingga kicau burung menambah ketenangan.
Jabal Kanil pun menghadirkan sensasi wisata religi yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyejukkan batin.
Gerbang Dunia Lahir dan Batin
Jabal Kanil bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah ruang hening di mana langit dan bumi seolah menyatu, menjadi gerbang antara dunia lahir dan batin.
Sebuah tempat di mana spiritualitas, sejarah, dan mistisisme berpadu, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang datang. (rud/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono