RADARSOLO.COM - Wajah bahagia dirasakan Supatmi, tenaga honorer di SMPN 1 Kemalang, Klaten. Dua tahun menjelang pensiun, dia menerima kado manis diangkat sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
Tangannya bergetar saat menerima surat keputusan. Matanya berkaca-kaca, senyumnya tak bisa disembunyikan. Di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu (30/7), Supatmi berdiri di antara ratusan orang, tapi hari itu seolah hanya miliknya. Penantiannya selama 34 tahun sebagai tenaga honorer akhirnya berbuah manis setelah resmi diangkat menjadi PPPK.
Warga Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko, itu tak pernah menyangka momen pengambilan sumpah dan janji PPPK akan menjadi salah satu hari paling bermakna dalam hidupnya. Bersama 384 PPPK lain, Supatmi menerima SK pengangkatan. Meski hanya akan menyandang status tersebut selama dua tahun menjelang pensiun, rasa syukur dan bahagia tak bisa ia sembunyikan.
“Tentu senang setelah menerima SK pengangkatan PPPK. Pengabdian saya sudah dihargai,” ucap Supatmi lirih, matanya masih basah haru.
Perjalanan Supatmi bukan tanpa rintangan. Sejak mengawali tugasnya sebagai tenaga honorer administrasi perkantoran di SMP Negeri 1 Kemalang pada 1989, ia tetap setia di jalurnya. Sekolah yang berdiri di lereng Gunung Merapi itu menjadi saksi perjuangannya selama puluhan tahun, meski sempat terpikir untuk berhenti.
“Dulu saya sempat ingin berhenti, apalagi suami sudah lebih dulu jadi PNS. Tapi beliau yang justru menyemangati saya untuk terus lanjut,” tutur ibu tiga anak yang kini juga telah menjadi nenek dari tiga cucu itu.
Supatmi sempat lima kali mengikuti seleksi CPNS. Tapi hasilnya nihil. Ia tak pernah lolos seleksi. Meski begitu, perempuan 57 tahun itu tak patah arang. Ia percaya setiap perjuangan akan menuai hasil, dan keyakinan itu akhirnya menjadi nyata lewat jalur PPPK.
“Saya percaya, Tuhan pasti punya rencana terbaik,” katanya penuh keyakinan.
Setelah resmi menyandang status PPPK, Supatmi tetap melanjutkan tugasnya di posisi yang sama di SMPN 1 Kemalang. Baginya, pengabdian bukan soal tempat, tetapi tentang bagaimana ilmu dan tenaga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.
“Saya tetap seperti biasa. Tetap mengabdi, tetap berjuang, agar ilmu saya bisa terus bermanfaat,” ucapnya.
Pengabdian Supatmi juga menjadi simbol kesetiaan dan ketulusan dalam bekerja, sesuatu yang tak selalu bisa dinilai dengan nominal gaji atau jabatan.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengingatkan bahwa status PPPK bukan sekadar formalitas. Para ASN, termasuk PPPK, memiliki peran penting dalam roda pemerintahan dan pelayanan publik.
“Jadilah PPPK yang berorientasi pada pelayanan. Mampu bekerja sama, terbuka terhadap perubahan dan inovasi, serta menjunjung tinggi etika dan nasionalisme,” pesan Hamenang.
Dari lereng Merapi, kisah Supatmi menjadi bukti nyata bahwa kesetiaan dan dedikasi akan menemukan jalannya sendiri. Mungkin tak cepat, tapi pasti. (ren/bun)
Editor : Kabun Triyatno