RADARSOLO.COM - Sebuah lahan kosong yang dulu tak terpakai di RT 04 RW 01 Kelurahan Panularan, kini berubah wajah menjadi sentra inovasi dan ketahanan pangan warga. Dengan semangat gotong royong, warga setempat menggagas Panularan Indah Baron Berseri (Pandabori), sebuah gerakan lingkungan berbasis urban farming dan UMKM yang terus tumbuh sejak 2023.
Tak sekadar berkebun, para pegiat lingkungan di bawah bendera Pandabori Farm berhasil memanfaatkan lahan sempit menjadi ruang produktif. Mereka mengolah hasil kebun menjadi berbagai produk unggulan—dari makanan dan minuman herbal hingga produk kebersihan alami.
Selasa siang (5/8), beragam produk olahan ditata rapi di sudut lahan serbaguna. Ada pepes daun singkong, keripik bayam, minuman herbal berbahan bunga telang, hingga sabun cuci berbahan oyong—semuanya hasil kreasi para ibu rumah tangga yang tergabung dalam komunitas ini.
“Umbi singkongnya kami jadikan keripik, daunnya untuk pepes. Bayam kami buat keripik juga, lalu bunga telang kami olah jadi minuman sehat dan versi keringnya,” terang Indrat Budiyati, 71, ketua Pandabori Farm yang juga menjabat sebagai ketua RT 04. Meski sudah lanjut usia, semangatnya menular ke anggota lainnya.
Bahkan, sabut oyong yang biasanya terbuang kini disulap jadi alat pencuci alami. “Tanaman oyong kami budidayakan memang khusus untuk ini. Setelah tua, kami olah jadi alat pembersih ramah lingkungan dan sudah dijual di marketplace,” imbuh Indrat bangga.
Tak hanya berkebun, warga juga merintis peternakan lele dan mentok. Hebatnya, mereka berhasil mengolah hama bekicot yang merusak tanaman menjadi pakan ternak, sehingga menekan biaya produksi.
“Awalnya tanaman rusak karena bekicot. Lalu kami kumpulkan dan olah jadi pakan. Hasilnya jadi makanan tambahan buat ikan lele dan mentok,” jelas Indrat.
Pandabori Farm tidak hanya memperkuat ekonomi warga, tetapi juga merekatkan solidaritas sosial. Para anggota secara bergiliran menjalankan tugas piket, saling membantu jika ada yang berhalangan. Gotong royong menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
“Pengurusnya kebanyakan ibu-ibu, tapi kalau ada yang berhalangan karena kerja, langsung digantikan yang lain. Ini murni karena rasa saling memiliki,” tambah Indrat.
Program ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kelurahan Panularan. Mulai dari pendampingan hingga izin penggunaan lahan kosong milik warga. Kini, lokasi yang dulu terbengkalai itu menjelma jadi tempat yang asri, produktif, dan membanggakan.
“Dulu bangunannya mangkrak, tidak terpakai. Tapi setelah dapat izin, kami kelola bersama. Kini jadi tempat yang enak dipandang dan membuat warga betah berkegiatan,” tutup Indrat. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno