Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Dari Iseng Jadi Bisnis, Roosdin Bawa Anggrek Bulan Solo ke Kelas Premium

Mannisa Elfira • Selasa, 12 Agustus 2025 | 02:56 WIB
Salah satu koleksi tampil di Solo Festival Anggrek. (Arief Budiman/Radar Solo)
Salah satu koleksi tampil di Solo Festival Anggrek. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Mewah nan anggun. Dua kata yang terasa pas menggambarkan pesona anggrek bulan. Bunga dengan corak eksotis dan warna berkelas ini seakan mencuri perhatian begitu memasuki Solo Festival Anggrek di Graha Wisata Niaga, beberapa waktu lalu.

Di tengah riuhnya pengunjung, sudut pameran Ocha Orchid Solo berdiri memikat. Sejak langkah pertama, pandangan langsung tertambat pada rangkaian anggrek bulan yang memancarkan kemewahan. Kelopak demi kelopak tampak sempurna, seolah dipahat dengan teliti oleh tangan alam.

Warnanya bervariasi. Ada yang putih murni bak salju, ada pula yang merah muda lembut berhias bintik putih krem. Mahkota bunganya tebal, membentuk lekukan nyaris simetris, menegaskan daya tarik dan keeleganannya.

“Ini anggrek bulan, asli dari wilayah tropis. Sudah melalui pengembangan kultur jaringan sehingga warnanya bisa beragam dan unik,” tutur Roosdin, pemilik Ocha Orchid Solo, kepada Jawa Pos Radar Solo.

Beberapa koleksinya didatangkan langsung dari Taiwan melalui teknik kawin silang. Tak heran, tampilannya begitu premium. Satu rangkaian anggrek dalam pot keramik putih mengilap, dihias pita kain besar, sukses menjadi primadona pameran.

“Biasanya dibeli untuk hadiah ulang tahun, dekorasi hotel, sampai hiasan di kantor bank. Harganya mulai Rp 190 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung jumlah tangkai dan rangkaiannya,” jelas Roosdin.

Namun, di balik kemewahan itu, perawatannya tidak sembarangan. Anggrek bulan membutuhkan habitat ideal di ketinggian 800–1.200 mdpl. Roosdin memilih lahan di bawah Candi Sukuh, sekitar 1.000 mdpl, untuk membesarkan tanaman-tanaman cantiknya.

Proses pembesaran dilakukan di bawah paranet agar mendapat sinar matahari tak langsung. Saat memasuki fase pembungaan, anggrek dipindah ke lokasi yang lebih teduh dan sejuk.

“Dari mulai berbunga hingga dewasa butuh waktu sekitar tiga sampai empat bulan,” ujarnya.

Meski demikian, setelah berbunga, perawatannya cukup sederhana. Cukup disimpan di tempat teduh, jauh dari sinar matahari langsung, dan disiram seminggu sekali.

“Saya pakai media tanam moss hijau. Kalau sudah lembap, tak perlu sering disiram. Boleh ditambah vitamin B1 biar tidak stres,” tambahnya sambil tersenyum.

Kecintaan Roosdin pada anggrek ternyata adalah warisan sang ibu. Awalnya ia tak terlalu berminat. Namun setelah sang ibu meninggal, dorongan teman membuatnya mencoba. “Awalnya iseng, tapi malah ketagihan,” kenangnya.

Kini, bisnis Ocha Orchid Solo berkembang pesat. Target pasarnya luas, dari hotel berbintang, lembaga keuangan, hingga acara pribadi. Anggrek bulan tak lagi sekadar bunga, tapi menjadi simbol keanggunan yang siap mempercantik setiap sudut ruang. (nis/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#habitat #Pesona #festival #Anggrek Bulan #tropis