Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Harapan Musik, Benteng Terakhir Kaset di Solo yang Melawan Arus Digital

Fauziah Akmal • Rabu, 13 Agustus 2025 | 02:27 WIB

 

Rizki kini masih bertahan menjual kaset-kaset di tokonya di kawasan Timuran, Banjarsari, Solo. (Fauziah Akmal/Radar Solo)
Rizki kini masih bertahan menjual kaset-kaset di tokonya di kawasan Timuran, Banjarsari, Solo. (Fauziah Akmal/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di tengah derasnya arus digitalisasi musik, toko kaset Harapan Musik masih mempertahankan jual-beli rilisan fisik di Kota Solo. Pria paruh baya yang hanya mau menyebut namanya Rizki itu setia menjaga warisan usaha keluarga yang berdiri sejak 1985.

Pagi itu, seorang lelaki berkacamata hanya duduk sambil memainkan ponsel miliknya di toko kaset Harapan Musik, Jalan Slamet Riyadi Nomor 264, Timuran, Banjarsari, Kota Solo.

Dia menjadi satu dari sedikitnya pelaku usaha yang mempertahankan bisnis ini. Selain dia, adalah adiknya pemilik toko kaset Kurnia Ilahi yang berlokasi di simpang Pasar Pos Solo.

“Di sana masih ada beberapa kaset, meski tidak sebanyak di sini. Itu juga milik saudara saya. Sebagian kaset sudah dipindahkan ke sini, tapi saya pilih yang kira-kira bisa laku di tempat saya, sisanya masih di sana,” kata dia belum lama ini.

Dulu, Harapan Musik merasakan masa kejayaan kaset pita, CD, dan DVD. Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, sehari bisa terjual hingga 100 keping rilisan. Album dari band besar seperti Dewa 19, Sheila on 7, Jamrud, hingga Peterpan laris manis.

Namun, sejak awal 2010, pelanggan mulai beralih ke musik digital. Pembajakan, platform streaming seperti YouTube dan Spotify, hingga pemasaran musik lewat ring back tone (RBT) membuat rilisan fisik kehilangan pamor.

“Biasanya ada agen yang datang ke toko buat masok. Kadang juga saya datang ke kota seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya buat ambil, tapi itu dulu, sekarang sudah tidak,” katanya.

Situasi semakin sulit ketika label lokal berhenti memproduksi kaset, membuat stok kian langka. Meski permintaan kini hanya datang dari kolektor dan pecinta musik, Harapan Musik tetap buka. Rizki menolak menjual barang dengan harga selangit meski nilai koleksi kasetnya melonjak di pasaran.

“Tapi saya kan sudah tidak bisa kulakan, label sudah tidak produksi, makanya terus langka dan harganya sekarang jadi mahal, kadang malah tidak masuk akal. Saya pernah lihat album Sheila itu ada yang jual sampai Rp 400 ribu,” imbuhnya.

Selain album pop dan rock, Harapan Musik juga menyimpan kaset gending Jawa, dangdut, dan campursari. Beberapa di antaranya menarik minat turis mancanegara, terutama dari Jepang. Untuk rilisan luar negeri seperti Metallica, Bon Jovi, atau Maroon 5, Rizki masih mendapat pasokan lewat jaringan kolega.

Harga kaset pita di toko ini berkisar Rp 30.000–Rp 40.000, album lokal Rp 75.000–Rp 125.000, sedangkan rilisan impor bisa mencapai Rp150.000 atau lebih. Di tengah maraknya penjualan daring, dia bertahan dengan penjualan konvensional.

“Kadang tiga hari saya ya begini saja, memandangi motor-motor yang lewat. Enak seperti ini, kalau ada komplain bisa langsung bilang, kalau online kurang nyaman saja,” kata Rizki. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#digitalisasi musik #kolektor #album #pecinta musik #kaset