RADARSOLO.COM - tengah derasnya arus musik modern, seorang bocah asal Sukoharjo justru memilih jalan berbeda. Dialah Mayza Earldian Purwanto, murid kelas 3 SD yang kepiawaiannya menabuh gamelan membuat banyak orang terperangah.
Di rumah sederhana di Dusun Siwal, Baki, denting bilah saron terdengar lirih setiap sore. Jemari Mayza yang masih kecil bergerak lincah, menghasilkan irama teratur seolah dirinya telah berlatih bertahun-tahun. Padahal usianya baru 8 tahun.
“Awalnya ikut bapak nonton latihan gamelan, terus coba-coba sendiri. Kebetulan di rumah ada satu set gamelan. Dari situ mulai suka,” ujar Mayza, bocah kelahiran 8 Mei 2017 itu, sambil tersenyum malu-malu.
Sejak itu, bakatnya makin terasah. Mayza kini bergabung di Sanggar Purbokayun dan juga ikut bermain bersama kelompok pengrawit DPRD Kota Solo yang mayoritas beranggotakan orang dewasa. Biasanya ia memainkan saron, sesekali bonang. Uniknya, ia belajar lebih banyak dengan mengandalkan pendengaran ketimbang notasi angka.
Tak heran jika deretan gending Jawa seperti Majar Sewu, Serpek, hingga Wilujeng sudah ia kuasai. Ia pun sudah beberapa kali pentas, bahkan pernah mengiringi pagelaran wayang.
“Kalau ada waktu luang ya main gamelan, lebih senang daripada main HP,” katanya polos.
Kecintaan Mayza pada gamelan lahir dari lingkungan keluarga. Ayahnya, Heri Purwanto, seorang pengrawit senior, rutin memainkan gamelan di rumah.
waya“Potensinya sudah kelihatan sejak sebelum TK. Saya ajari kendang kecil untuk iringan tari, ternyata cepat bisa. Kelas 2 SD sudah ikut latihan bareng bapak-bapak,” ungkap Heri.
Heri mengakui tantangan besar menjaga minat anak-anak pada gamelan di era gadget. Namun menurutnya, kunci ada pada dukungan keluarga.
“Kalau orangtua mau mendampingi, anak bisa tertarik. Gamelan itu membentuk rasa, kesabaran, dan kebersamaan,” ujarnya.
Suara gamelan yang dimainkan Mayza pun sering menarik perhatian tetangga. “Mereka kaget, kok anak kecil bisa main gending yang biasanya dimainkan orang tua. Malah senang, katanya jarang ada anak sekarang yang mau belajar gamelan,” tambah Heri.
Meski begitu, Heri tidak memaksa anaknya untuk jadi seniman. Ia hanya berharap kecintaan Mayza terhadap gamelan bisa menjadi jalan hidup yang baik.
“Saya dulu dilarang bapak jadi pengrawit, tapi rezeki saya justru dari seni. Kalau Mayza mau jadi pengrawit, saya dukung penuh,” katanya.
Bagi Heri, gamelan bukan sekadar alat musik, melainkan warisan budaya yang wajib dirawat.
“Kalau anak-anak seusia Mayza mau belajar, regenerasi tidak akan putus. Gamelan itu bukan hanya suara, tapi juga rasa,” tandasnya. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno