Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dari Kampung Batik Kauman ke ITB: Kisah Oryza Sativa, Anak Penyepuh Emas asal Solo Dijemput Rombongan Rektor

Fauziah Akmal • Senin, 18 Agustus 2025 | 23:58 WIB

 

Oryza Sativa dikunjungi Rektor ITB Tatacipta Dirgantara di rumahnya  Pasar Kliwon, Solo.    
Oryza Sativa dikunjungi Rektor ITB Tatacipta Dirgantara di rumahnya Pasar Kliwon, Solo.  

RADARSOLO.COM - Di sebuah rumah sederhana di Kampung Batik Kauman, Solo, suasana penuh haru menyelimuti ketika Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Tatacipta Dirgantara bersama jajaran pimpinan kampus datang berkunjung awal Agustus lalu. 

Bukan kunjungan biasa. Ini adalah salah satu bentuk nyata perhatian kampus terhadap mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK) yang berhasil lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025.

Mahasiswa itu bernama Oryza Sativa, putri kedua dari empat bersaudara yang juga lulusan SMAN 4 Solo. Perempuan yang akrab disapa Ory ini diterima di fakultas ilmu dan teknologi kebumian (FITB). Keberhasilannya bukan hanya buah dari kerja keras belajar, tapi juga keteguhan keluarga yang tak pernah berhenti mendukung di tengah keterbatasan.

“Awalnya saya enggak nyangka bakal dikunjungi langsung Pak Rektor sama dosen-dosen ITB. Saya pikir banyak orang lain yang lebih keren. Tapi kata Bunda, itu memang rezekinya saya,” ujar Ory kepada Jawa Pos Radar Solo melalui sambungan telepon.

Semua berawal ketika Ory menerima telepon dari Imam Santoso, dosen ITB yang juga aktif di media sosial. Karena panggilan telepon dari nomor asing, dia sempat ragu.

“Saya awalnya takut. Tapi Mas Imam lalu ngajak video call supaya saya percaya. Di situ beliau bilang kalau rumah saya akan dikunjungi oleh Pak Rektor dan rombongan,” kenangnya.

Dua hari kemudian, tepatnya 6 Agustus, janji itu terbukti. Rektor ITB bersama dekan FITB dan jajaran dosen hadir bersama mengunjungi keluarga Oryza. Mereka tidak hanya berbincang sejenak, tapi juga menanyakan kondisi keluarga Ory, pekerjaan sang ibu, dan memberi semangat langsung untuk perjalanan kuliahnya.

Dari kunjungan itu, Ory menerima laptop, paket skincare dari Paragon Corp, hingga bantuan uang tunai. Namun yang paling membekas bukanlah materi.

“Pak Rektor sempat bilang kalau nanti saya capek atau butuh bantuan, jangan sungkan. Bahkan beliau sampai nangis waktu menyemangati saya. Itu yang bikin saya makin yakin harus semangat kuliah dan membuktikan diri lewat kesuksesan,” tutur Ory.

Di balik prestasi itu, tersimpan kisah keteguhan seorang ibu. Ayah Ory sudah lebih dari sepuluh tahun menderita glaukoma, hanya bisa melihat samar dari satu mata. Sebab itu, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai penyepuh emas di pinggir Pasar Klewer.

“Kadang Bunda dibantu paman dari pihak ayah,” kata Ory.

Kakaknya kini juga berkuliah di ITB. Kini giliran Ory menyusul, membawa harapan baru untuk keluarga. Sekarang Ory sudah di Jawa Barat dan baru akan mengikuti ospek resmi pada 25–28 Agustus. Ory sudah menjalani beberapa tes pra-orientasi.

“Semoga kuliah saya lancar, nilainya bagus, bisa lulus tepat waktu, kalau bisa lebih cepat. Saya ingin buktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah,” harapnya.

Bagi Ory, kunjungan itu bukan sekadar seremoni. Itu adalah pengingat bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia, dan bahwa mimpi anak-anak dari lorong sempit kampung bisa terbang tinggi menuju masa depan yang lebih cerah. “Jadi saya benar-benar terharu banget,” tandasnya. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#kampus #kampung batik #rektor #itb