RADARSOLO.COM-Sore itu, suasana di kantor Jawa Pos Radar Solo dipenuhi energi dan tawa renyah.
Musa Pagawak, seorang musisi hip-hop, baru saja menyelesaikan sesi wawancara.
Dengan kaus hitam sederhana dan senyum lebar, ia duduk santai.
Nafasnya masih sedikit terengah usai bicara penuh semangat tentang Jawa, Papua, dan khebinekaan.
Musa, yang lahir di Desa Yelanggolo, Distrik Kelila, Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua Pegunungan, memiliki kisah menarik.
Ia tumbuh akrab dengan musik tradisional suku Lani, yaitu Wisisi, bunyi ritmis yang dipetik seperti gitar.
Namun, ia tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang musisi.
“Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Wamena, Jayawijaya, pada 2013, saya memutuskan merantau. Kuliah di UNISRI,” ujarnya.
Keputusan merantau dari pegunungan Papua ke Solo bukanlah hal mudah.
Tantangan pertama yang ia hadapi adalah bahasa.
“Awalnya saya sama sekali tidak bisa bahasa Jawa. Belajar dari teman-teman, justru tidak saya dapatkan dari pendidikan formal. Belajar bahasa Jawa dari yang bahasa pergaulan, bahkan yang saru-saru,” kenangnya sambil tertawa.
Perpaduan Musik Wisisi dan Hip-Hop Empat Bahasa
Baca Juga: Kisah Mayza Earldian Purwanto, Anak 8 Tahun asal Solo Jago Gamelan di Tengah Arus Musik Modern
Titik balik musik Musa datang saat ia berkenalan dengan komunitas Kalipso, kelompok anak muda di Solo yang menyukai rap dan hip-hop.
Dari sekadar ikut nongkrong, Musa mulai ikut latihan, menulis lirik, hingga mencoba panggung kecil-kecilan.
“Hip-hop itu kayak ruang bebas. Kamu bisa cerita apa pun,” ungkapnya.
Namun, Musa tidak hanya ingin menjadi peniru hip-hop ala Barat.
Ia bereksperimen dengan memadukan lirik dalam bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, dan bahasa Lani. Ia ingin musiknya menjadi jembatan bagi banyak orang.
“Bagi saya, bahasa itu jembatan. Kalau satu lagu bisa empat bahasa, berarti makin banyak orang yang bisa merasa dekat. Ada yang paham Jawa, ada yang tersentuh bahasa Lani, ada yang familiar dengan Inggris,” jelasnya.
Musa kemudian menemukan identitas musiknya dengan menggali memori masa kecil dan memadukan hip-hop modern dengan musik Wisisi tradisional.
Hasilnya adalah musik yang unik dan beridentitas kuat, yang ia gunakan untuk memperkenalkan budaya Papua ke dunia luar.
Bahasa Sebagai Jembatan
Kefasihan Musa berbahasa Jawa, bahkan dalam rap, menjadikannya unik. Ia menjelaskan filosofi di balik penggunaan empat bahasa dalam karyanya.
“Kalau saya menyanyi dengan bahasa Jawa, saya menyapa wong Solo. Kalau pakai bahasa Lani, saya bawa kampung halaman. Kalau bahasa Indonesia, saya bicara ke semua orang. Kalau bahasa Inggris, dunia bisa mendengar. Semua jadi satu dalam musik. Dengan empat bahasa, bisa diterima di mana saja,” katanya.
Nama media sosialnya pun ia ambil dari sebutan pengemudi gerobak sapi atau cikar di Jawa.
Nama itu juga yang ia jadikan nama panggung, yang menurutnya adalah semangat seorang pengendali.
Baca Juga: Dari Iseng Jadi Bisnis, Roosdin Bawa Anggrek Bulan Solo ke Kelas Premium
Ya, dari desa kecil di Papua Pegunungan, Musa Pagawak menapaki jalan panjang ke Kota Solo.
Ia membuktikan bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan harmoni yang dapat menyatu dalam musik. (kwl/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono