Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Ketoprak Kembang Adi Soka, Saat Seni Jadi Penawar Resah usai Kerusuhan Solo

Silvester Kurniawan • Kamis, 4 September 2025 | 01:04 WIB
Pentas ketroprak di Balai Kelurahan Pajang sehari usai kerusuhan berjalan lancar.  (Silvester Kurniawan/Radar Solo)
Pentas ketroprak di Balai Kelurahan Pajang sehari usai kerusuhan berjalan lancar.  (Silvester Kurniawan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Seni bisa menyatukan semua kalangan dalam kegembiraan. Seperti pentas ketoprak Kembang Adi Soka di Pajang telah menjadi penawar keresahan usai peristiwa kerusuhan di Solo akhir pekan kemarin.

Kerusuhan yang melanda Kota Solo pada Jumat (29/8) sore hingga Sabtu (30/8) dini hari sempat meninggalkan jejak kegelisahan di hati warga. Media sosial dipenuhi gambar dan video yang memperlihatkan suasana mencekam. Jalanan ricuh, fasilitas umum rusak, dan wajah Solo seakan porak-poranda.

Bagi Dedy Rusyanto, pimpinan grup Ketoprak Kembang Adi Soka, kabar itu ibarat petir di siang bolong. Sebab, sehari setelah kerusuhan, kelompok seni yang ia pimpin dijadwalkan pentas di kantor Kelurahan Pajang.

“Saya sempat ragu, pentas opo ora? Tapi ternyata tetap boleh pentas,” ujarnya lega.

Sabtu (30/8) malam itu, panggung sederhana di Kelurahan Pajang justru berubah menjadi ruang penenang. Ketika banyak event lain memilih ditunda, Kembang Adi Soka tetap berani tampil. Lakon Suminten Edan yang mereka usung terasa pas dengan suasana.

Cerita rakyat dari Ponorogo itu memotret perbedaan kelas sosial—antara priyayi dan rakyat jelata—yang dikemas atraktif dan mudah dicerna.

Tak hanya pesan moral tentang keadilan sosial yang tersampaikan, tetapi juga pesan menenangkan dari pemerintah bahwa Solo masih aman dan kondusif.

“Alhasil warga yang sempat khawatir justru bisa tenang dan yakin kalau Solo Aman,” kata Dedy.

Kembang Adi Soka bukan grup baru di jagat ketoprak Solo. Berdiri sejak 2009 dengan nama Kembang Sore, mereka konsisten menjaga roh pelestarian budaya. Dari anggota sepuh berusia 70-an hingga yang masih muda berusia 30-an, semuanya bergabung dengan semangat sama yaitu nguri-uri kabudayan.

“Kadang kami juga mengajak seniman ketoprak senior untuk tampil bersama, supaya anak-anak muda di sini bisa belajar langsung dari ahlinya,” tambah Dedy.

Yang membuat Kembang Adi Soka istimewa bukan hanya semangat melestarikan seni, melainkan juga peran sosialnya. Di balik panggung, kelompok ini menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda agar terhindar dari pergaulan yang salah.

Hal itu terasa relevan pascakerusuhan Solo yang melibatkan banyak anak muda. Melalui diskusi, latihan, hingga bedah lakon, para sesepuh ingin menanamkan nilai-nilai luhur dan menyalurkan energi muda ke hal positif.

“Sementara ini yang bisa kami lakukan adalah melibatkan mereka dalam pembentukan event. Harapannya, ke depan yang muda bisa pentas sendiri,” jelas Dedy.

Bagi warga Pajang, Kembang Adi Soka bukan sekadar kelompok seni. Ia menjadi benteng sosial, media edukasi, sekaligus pengingat bahwa Solo tak hanya punya cerita kerusuhan, tapi juga punya ruang kebersamaan yang menenangkan lewat kesenian. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#event #Keresahan #rusak #penawar #seni