RADARSOLO.COM - Totalitas Aipda Wirawan Setiadi dalam melayani masyarakat tidak diragukan lagi. Selain mengabdi di jajaran institusi kepolisian, dia juga menyalurkan tenaganya untuk melayani lewat misi kemanusiaan.
Suara sirine ambulans memecah kesunyian. Di balik kemudi, Aipda Wirawan Setiadi sigap mengarahkan kendaraan putih itu, menembus jalanan demi menjemput pasien yang tengah berjuang melawan maut.
Bagi pria 42 tahun ini, setiap detik begitu berarti. Bukan sekadar tugas tambahan, mengemudi ambulans adalah panggilan jiwa yang sudah ia jalani selama enam tahun terakhir bersama komunitas relawan Sedekah Bersama (Saber).
Namun, siapa sangka, sosok pengemudi ambulans yang tampak bersahaja itu sejatinya adalah seorang polisi aktif. “Saya di Polsek Gatak (Sukoharjo), sekarang menjabat kanit binmas,” ujarnya sambil tersenyum ramah saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di sela tugasnya.
Tubuhnya gempal, tutur katanya lembut, membuat siapa pun nyaman berbincang dengannya. Tidak ada kesan kaku ala aparat. Justru sikap rendah hatinya membuat orang sulit percaya bahwa ia masih aktif bertugas di kepolisian.
Ketika ditanya bagaimana membagi waktu antara tugas dinas dan panggilan kemanusiaan, Wirawan mengaku sudah mendapat lampu hijau dari pimpinan. “Alhamdulillah, dari tahun ke tahun para kapolres mendukung. Termasuk ketika saya harus menjemput pasien atau mengantar jenazah,” tuturnya.
Perjalanan pengabdian ini berawal pada 2018, ketika ia membentuk Relawan Saber dengan fokus pada kegiatan sosial, yakni berbagi makanan dan membantu evakuasi kecelakaan. Setahun kemudian, mereka berhasil membeli ambulans pertama. Momentum pandemi Covid-19 semakin menguatkan langkahnya. Saat banyak ambulans enggan membawa pasien Covid-19, Wirawan yang pernah terpapar merasa terpanggil.
“Saya pikir saya sudah punya imun. Akhirnya saya putuskan ikut bantu menangani pasien dan jenazah Covid-19,” kenangnya.
Relawan Saber lahir dari komunitas offroad. Dengan mobil berkatrol, mereka kerap membantu kendaraan terguling, tercebur sungai, atau terjatuh ke sawah. Dari aksi rescue, kegiatan melebar ke layanan ambulans. Bahkan pernah, Wirawan diminta mengantar jenazah hingga ke Pulau Sumatra lewat jalur darat.
“Tidak ada batasan wilayah, semua bisa kami layani. Pimpinan juga tidak mempermasalahkan. Prinsipnya sama, melayani masyarakat,” jelasnya.
Meski memikul dua peran sekaligus—polisi dan relawan—Wirawan menegaskan bahwa kebahagiaan selalu lebih besar daripada tantangan. Dukungan datang dari banyak pihak. Mulai dari rekan sejawat, jajaran kepolisian, sesama relawan, donatur, hingga keluarga.
Sang istri, yang sehari-hari berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus pelaku usaha kecil, bahkan ikut terjun. Saat pandemi, ia rela membantu proses pemulasaran jenazah pasien Covid-19 perempuan.
“Rasanya bangga bisa melayani orang lain, entah saat mereka sembuh atau ketika harus sampai di peristirahatan terakhir. Dukungan keluarga luar biasa, sampai istri pun ikut terlibat,” ucapnya haru.
Kini, Aipda Wirawan Setiadi tetap setia mengabdi di balik kemudi ambulans. Baginya, melayani pasien, menjemput jenazah, berbagi makanan, hingga membantu kaum dhuafa adalah cara menjaga amanah dan kepercayaan masyarakat terhadap Relawan Saber.
“Dari awal niatnya memang ingin melayani. Itu sudah cukup membahagiakan,” ujarnya. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno