RADARSOLO.COM - Bukan di ruang terapi, melainkan di lapangan basket yang penuh gemuruh, FX Risang Anugrah Gusti, 23, akhirnya menemukan takdirnya. Pelatih muda SMAN 1 Klaten ini baru saja menorehkan babak baru yang manis, terpilih sebagai pelatih Second Team Honda DBL with Kopi Good Day 2025 Central Java. Sebuah pengakuan yang datang setelah ia sukses mengantar timnya menembus babak Fantastic Four South Region.
Penghargaan ini datang bak kejutan di tengah badai. "Di saat saya ada di titik terendah, Tuhan berikan kado manis dan indah untuk saya," ujar Risang kepada Jawa Pos Radar Solo, suaranya terdengar campur aduk.
"Waktu kepilih itu saya bingung antara mau lompat kegirangan, nangis terharu, atau lainnya. Jujur, istilah Jawanya itu ‘mak deg mak tratap’."
Jalan Risang menuju kursi pelatih ternyata penuh liku, bahkan ia sempat bersikeras menolak profesi yang kini membesarkan namanya. Awalnya, ia enggan mengikuti jejak sang kakak yang sudah lebih dulu menjadi pelatih akademi. Hati Risang sudah tertambat pada dunia terapi.
"Saya kuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan UNY, prodi ilmu keolahragaan. Saya sudah kekeh mau fokus jadi terapis," kenangnya. Konsentrasi yang ia ambil jelas berseberangan dengan tawaran melatih.
Namun, sebuah nasihat bijak dari pemilik akademi basket mengubah segalanya. Pelatih senior itu berujar, "Sang, mungkin tidak semua hal yang kamu usahakan dengan keras bisa tercapai dengan maksimal. Mumpung kamu masih muda, cobalah banyak hal, siapa tau hal yang kamu lakukan ini malah lebih menghasilkan di masa mendatang."
Kalimat itu menohok dan membuka mata Risang. Ia pun memberanikan diri. Berbekal pengalaman sebagai mantan atlet basket, ia mulai belajar merajut karier melatih dari nol.
Status Risang sebagai mantan pebasket ternyata menjadi modal berharga. Ia dapat merasakan in-game situation, tahu kapan harus mengambil keputusan di lapangan, dan memahami betul psikologis pemain. "Itu yang jadi pegangan saya, pengalaman-pengalaman ketika main tadi," ungkapnya.
Lama-lama, ilmu dari lapangan dan ilmu dari bangku kuliah pun bersinergi. "Ilmu dari pengalaman dapat, dan ilmu by education juga dapat. Malah gak expect," imbuhnya.
Namun, awal melatih tak semudah membalik telapak tangan. Risang mengakui ia sangat buta soal kurikulum melatih, sikap yang harus diambil, dan penentuan tujuan tim. Rasa frustrasi sempat menghinggapinya.
"Sempat punya pikiran, ‘apa langsung stop aja ya, gak bakat kayaknya’," bebernya jujur.
Beruntung, Risang tidak menyerah. Ia memilih untuk belajar mati-matian, bahkan dengan cara "merepotkan" seniornya, Coach Lusia Puspitasari, Pelatih SMA Unggulan RUSHD Sragen yang juga masuk nominasi First Team Girls.
"Coach Lusi ini yang selalu saya spam dengan banyak pertanyaan, baik lewat telepon atau chat WhatsApp. Memang terkesan sangat rewel ya saya, cuma untung kita satu frekuensi," kata Risang sembari tertawa. Dari situlah ia mulai percaya diri dan berani improve, meski ia tetap merendah. "Sampai saat ini saya sangat jauh dari beliau dari segi ilmu, pengalaman, dan jam terbang," ujarnya.
Mengenai target ke depan, Risang memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Filosofinya sederhana, yaitu fokus dan berusaha memberikan yang terbaik, bukan berfikir menjadi yang terbaik.
"Semoga hasilnya juga yang terbaik. Kalau Tuhan kasih kesempatan, saya cuma bisa memaksimalkan dengan usaha saya. Masalah hasil biar Tuhan yang atur," pungkasnya dengan nada mantap. (nis/bun)
Editor : Kabun Triyatno