Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sigit Paripurno, Seniman Janur dari Sukoharjo yang Membawa Tradisi Nusantara ke Panggung Dunia

Arief Budiman • Selasa, 14 Oktober 2025 | 01:44 WIB
Sigit Paripurno dibantu karyawannya membuat kerajinan janur. (Arief Budiman/Radar Solo)
Sigit Paripurno dibantu karyawannya membuat kerajinan janur. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Sigit Paripurno, seniman asal Sukoharjo, menjadikan janur sebagai medium ekspresi seni yang mendunia. Dari instalasi megah hingga workshop internasional, ia menganyam tradisi Indonesia menjadi karya yang menginspirasi generasi muda dan mengangkat martabat budaya nusantara.

DI tangan Sigit Paripurno, daun kelapa tak lagi sekadar pelengkap hajatan atau hiasan upacara. Ia menjelma menjadi karya seni yang hidup—bernapas dari tradisi, tapi berbicara dengan bahasa masa kini.

Sigit dikenal sebagai salah satu pelopor seni janur modern di Indonesia. Sejak 2016, ia menekuni dunia janur dengan tekad kuat untuk melestarikan sekaligus mengembangkan warisan budaya nusantara agar tak lekang dimakan zaman.

“Awalnya saya ingin memperkenalkan janur kepada anak-anak lewat konten sederhana. Tapi lama-lama, saya merasa janur punya potensi luar biasa untuk dikembangkan sebagai karya seni yang bernilai tinggi,” ujar Sigit.

Dari situlah perjalanan kreatif Sigit dimulai. Ia bereksperimen dengan berbagai bentuk dan teknik lipatan janur, memadukan nilai tradisi dengan estetika kontemporer. Tak hanya membuat kembar mayang atau hiasan klasik, Sigit menciptakan instalasi janur berskala besar yang penuh warna dan makna simbolik.

Untuk bahan, Sigit menggunakan dua jenis daun dari keluarga Palma—daun kelapa dan daun siwalan. Daun kelapa muda yang masih segar ia gunakan untuk karya instalasi yang berwarna dan dinamis, sementara daun siwalan kering digunakan untuk menciptakan karya yang tahan lama, bahkan bisa bertahan bertahun-tahun.

“Janur itu punya karakter unik,” jelasnya. “Kalau masih muda, dia lentur dan hidup. Tapi kalau sudah kering, dia punya nilai lain—ketahanan dan tekstur yang kuat. Di situ letak keindahannya.”

Karya Sigit bukan hanya dikenal di Indonesia. Ia telah berpameran dan menjadi narasumber workshop di berbagai negara seperti Thailand, Belgia, Prancis, dan Belanda. Bahkan, ia sempat diundang untuk menggelar workshop seni janur di kantor KBRI, memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.

Namun, perjalanannya tak selalu mudah. Sigit harus berpacu dengan waktu dalam proses pembuatan karya, apalagi ketika persiapan pameran berskala besar. Tantangan lain datang dari aturan karantina ketat di Eropa, yang membatasi pengiriman bahan alami seperti daun kelapa.

“Kadang saya harus membawa bahan langsung dari Indonesia, dengan berbagai prosedur. Tapi semua itu bagian dari perjuangan untuk memperkenalkan budaya kita,” ujarnya tersenyum.

Puncak pengalamannya datang pada peringatan HUT RI ke-79, ketika Sigit dipercaya menghias Istana Kepresidenan dengan karya janur. “Itu momen yang tak akan saya lupakan. Rasanya bangga sekali ketika karya janur—yang dulu sering dianggap sederhana—dipajang di istana negara,” kenangnya haru.

Kini, Sigit bersiap untuk pameran terbarunya di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo pada 14–15 Oktober 2025. Dalam acara bertajuk Pameran Seni Janur Nusantara, ia akan memamerkan berbagai karya instalasi janur dan memberi workshop interaktif tentang teknik melipat serta makna filosofis janur dalam budaya Indonesia.

Lewat setiap helai janur yang ia anyam, Sigit tak hanya menciptakan karya indah, tapi juga merajut pesan cinta terhadap tradisi. Ia berharap generasi muda ikut melanjutkan langkahnya—menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali warisan budaya yang hampir terlupakan.

“Saya ingin anak-anak muda melihat bahwa janur bukan benda kuno. Ia adalah simbol kehidupan, kesederhanaan, dan harmoni dengan alam,” ujarnya dengan mata berbinar.

Dengan dedikasi dan ketekunannya, Sigit Paripurno telah membuktikan bahwa seni tradisi tidak mati—ia hanya menunggu tangan-tangan yang tulus untuk menghidupkannya kembali. Dari sehelai daun, lahirlah karya yang menembus batas ruang dan waktu. (rif/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#workshop #Janur #Sigit paripurno #warisan budaya #seni