Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mimpi Solo Cycling Community Membawa Solo ke Peta Sport Tourism Nasional

Silvester Kurniawan • Kamis, 16 Oktober 2025 | 01:46 WIB
Anggota Solo Cycling Community susuri jalan Solo dan sekitarnya. (Ist)
Anggota Solo Cycling Community susuri jalan Solo dan sekitarnya. (Ist)

RADARSOLO.COM - Suara ban sepeda bergesek dengan aspal pagi di Jalan Slamet Riyadi. Udara masih lembap, tapi semangat puluhan pesepeda itu sudah membara. Mereka bukan sekadar berolahraga, tapi sedang merawat mimpi-mimpi agar Solo dikenal dunia lewat pedal dan keringat.

Mereka adalah bagian dari Solo Cycling Community (SCC), komunitas yang kini menjadi wajah baru olahraga bersepeda di Kota Bengawan. Dari sekadar kumpul kecil di 2007, mereka tumbuh menjadi wadah ratusan goweser dari Solo Raya. Namun, kebanggaan terbesar mereka bukan pada jumlah anggota, melainkan pada sesuatu yang lahir dari obrolan ringan: Tour de Surakarta.

”Awalnya cuma ngobrol aja,” kenang Suryo Danukusumo, Ketua SCC, sambil tertawa kecil.

”Waktu itu teman-teman sering ikut event di kota lain. Kami berpikir, Solo ini kota budaya, indah, dan ramah. Kalau mereka bisa bikin event sepeda besar, kenapa kita tidak?” imbuhnya.

Pertanyaan sederhana itu ternyata jadi percikan. Dari ruang diskusi kecil itu, lahirlah Tour de Surakarta, ajang bersepeda skala nasional yang kini menjadi kalender rutin sport tourism Indonesia.

Pada 2022, event perdana mereka mengumpulkan ratusan peserta. Tahun berikutnya, peserta datang dari luar Jawa, bahkan dari mancanegara. Yang membuat banyak orang takjub, semuanya bermula dari swadaya.

”Dari sponsor belum ada sampai akhirnya dipercaya karena konsistensi,” kata Suryo.

”Tiap tahun kami belajar, memperbaiki, dan hasilnya makin banyak yang percaya,” bebernya.

SCC dikenal bukan komunitas sepeda biasa. Mereka punya agenda ketat dan rute menantang. Tiap Selasa, Kamis, dan Sabtu menempuh 40–60 kilometer. Tapi tantangan sesungguhnya ada di ‘Happy Monday’, gowes sejauh 100 kilometer ke arah pegunungan.

”Lucunya, justru yang paling ditunggu ya Happy Monday itu,” ujar Suryo sambil tersenyum.

”Capek iya, tapi di situ ada kebersamaan. Kami saling tunggu, saling dorong. Kayak hidup aja yang kuat bantu yang lelah.” Jelasnya.

Kegiatan rutin itu yang akhirnya menanamkan filosofi tersendiri bagi mereka. Bersepeda bukan soal kecepatan, tapi kebersamaan. Dan semangat itulah yang mereka bawa ke panggung nasional lewat Tour de Surakarta.

Ketika banyak kota berlomba dengan event lari, Solo justru menempuh jalur berbeda. Tour de Surakarta menghadirkan pemandangan lain. Para pesepeda menyusuri jalanan kota tua, melintasi kampung batik, menanjak ke arah alam hijau sekitaran Solo Raya sambil menikmati keramahan warga di pinggir jalan. Event ini bukan sekadar lomba, melainkan cara baru mencintai kota.

”Solo punya pesona lengkap budaya, sejarah, kuliner, dan alam. Kami hanya ingin menggabungkan semuanya lewat sepeda,” ujar Suryo. “Dengan cara ini, orang bisa merasakan Solo bukan hanya dengan mata, tapi juga dengan napas dan keringat.”

Kini, Tour de Surakarta bukan lagi mimpi segelintir orang. Ia telah menjadi simbol semangat warga Solo bahwa hal besar bisa lahir dari niat kecil, asal dikerjakan dengan hati dan konsistensi.

Di tengah derasnya arus modernitas, SCC membuktikan satu hal bahwa setiap kayuhan punya cerita. Dan dari Kota Bengawan, cerita itu sedang melaju cepat, hangat, dan membanggakan. (ves/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#aspal #goweser #Solo Cycling Community #sepeda #solo raya