RADARSOLO.COM- Alas Donoloyo atau Hutan Donoloyo di Desa Watusomo, Kecamatan Slogohimo, Wonogiri menyimpan sejumlah kisah.
Di wilayah setempat, dilarang melakukan hal tercela.
Juru Kunci Alas Donoloyo Sunarto mengatakan, ada aturan saat seorang pengunjung bertamu ke Alas Donoloyo. Di Alas Donoloyo, dilarang melakukan hal tercela.
Mulai dari berkata kasar hingga mengambil baik barang seperti kerikil hingga batang kayu di sana.
Sunarto mengibaratkan seperti saat seseorang bertamu. Saat bertamu ke rumah seseorang, adab dan sopan santun harus dijaga.
"Tapi kan beda alam. Beliau-beliau (penjaga wilayah Alas Donoloyo, red) juga punya aturan, punya norma. Ibarat orang bertamu ya sopan santun juga dibawa. Kalau seseorang bertamu dan berbicara sakgeleme maka tuan rumah akan marah," ujar Sunarto, Jumat (17/10/2025).
Selain itu, dilarang membawa barang apapun tanpa seizin dan sepengetahuan juru kunci.
Seorang tamu juga tak boleh membawa barang milik tuan rumah.
"Bahkan kerikil atau daun. Intinya kalau dibawa dan sampai rumah (diperingatkan) 'Balekno le' itu masih mending. Terkadang memperingatkan lewat sakit atau lewat celaka," kata dia.
Menurut dia, hal itu pernah terjadi dan kebanyakan barang yang diambil tanpa izin dikembalikan.
Misalnya mencuil kayu di Alas Donoloyo tanpa sepengetahuannya. Bahkan ada juga yang bermimpi dan diperingatkan untuk mengembalikan barang yang diambil.
Ada juga yang sudah diizinkan namun diminta untuk mengembalikan barang. Sebab, tujuan orang itu jelek.
Baca Juga: Sigit Paripurno, Seniman Janur dari Sukoharjo yang Membawa Tradisi Nusantara ke Panggung Dunia
"Kalau yang memberikan saya, itu sudah ada palilah dari Eyang Donoloyo (Ki Ageng Donoloyo). Misal diberi palilah dibawakan air, ya saya berikan air. Dibawakan bunga ya saya beri bunga. Daun ya diberi daun, kayu ya kayu," urainya.
Ki Ageng Donoloyo, Senopati Majapahit Penunggu Hutan Jati yang Penuhi Permintaan Sunan Giri untuk Tiang Masjid Demak
Dia mengatakan, ada sosok penunggu atau penjaga di Alas Donoloyo.
Penunggunya adalah pemilik jati-jati yang ada di sana. Sosok itu adalah Ki Ageng Donoloyo.
Sunarto menceritakan, ada banyak versi cerita soal Ki Ageng Donoloyo.
Ada versi yang menyebutkan saat berperang dengan Mataram, Ki Ageng Donoloyo sengaja tidak kembali ke Majapahit.
Namun cerita yang didapat Sunarto, Ki Ageng Donoloyo sengaja keluar dari Majapahit bersama sejumlah sosok lain.
Yakni Eyang Donosari, Eyang Putridonowati dan Pangeran Meleng. Mereka mendiami wilayah setempat di sekitar Alas Donoloyo.
Menurut Sunarto Ki Ageng Donoloyo dulu menanam pohon jati dan tumbuh sangat besar.
Suatu ketika Sunan Giri mencari kayu untuk bangunan Masjid Demak.
"Sampai di sini, disuwun kayu jatinya untuk soko guru (tiang utama) Masjid Demak. Eyang memberikan tiga permintaan dan kemudian disanggupi," kata Sunarto.
Syarat itu di antaranya saat ada geger negara atau kerajaan wilayah setempat tidak boleh dipakai sebagai lokasi ajang perang.
Lalu saat ada pagebluk penyakit anak cucu Ki Ageng Donoloyo diminta tak terkena.
Berikutnya, anak cucu di lingkungan wilayah setempat jangan sampai kekurangan sandang pangan.
"Itu disampaikan ke Raden Patah dan disanggupi juga. Lalu Kanjeng Sunan Giri kembali ke sini bersama Kanjeng Sunan Kalijaga. Kayu ditebang dilarung lewat sungai sampai Demak," terang dia.
Lebih jauh, Sunarto menceritakan ada banyak orang yang ngalap berkah di Alas Donoloyo.
Bahkan pada Jumat Pon pagi sampai selesai, biasanya ada warga yang memenuhi nazar nyadran ke sana.
Ada yang membawa panggang tumpeng bahkan ada yang menyembelih sapi di sana untuk memenuhi nazar. (al)
Editor : Tri wahyu Cahyono