Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kisah Arif Gunawan Dan Barang Tempo Dulu: Bukan Sekadar Cari Uang, Tapi Juga Menyimpan Kenangan

Alfida Nurcholisah • Selasa, 21 Oktober 2025 | 02:15 WIB

 

Pengunjung lapak Arif Gunawan melihat barang-barang antik di Pasar Jadoel Balekambang Solo.
Pengunjung lapak Arif Gunawan melihat barang-barang antik di Pasar Jadoel Balekambang Solo.

RADARSOLO.COM - Taman Balekambang bukan sekadar tempat rekreasi. Di balik suasana rindang dan kicau burung, terselip kisah Arif Gunawan—pehobi barang antik yang menjadikan koleksinya sebagai sumber rezeki.

Minggu pagi (19/10), Taman Balekambang tampak lebih hidup dari biasanya. Sejak pukul delapan, antrean kendaraan memanjang di loket masuk. Hanya dengan tiket Rp 5.000, warga Solo bisa menikmati udara segar di bawah rindangnya pepohonan tua yang menaungi taman legendaris itu.

Suara gamelan dari kejauhan berpadu dengan tawa anak-anak yang berlarian di antara jalan setapak. Aroma tanah basah dan dedaunan jatuh menambah suasana sejuk pagi itu. Di tengah riuh pengunjung, tampak sebuah kerumunan di dekat Bale Pangenggar, tempat berlangsungnya Pasar Jadoel Balekambang.

Dari depan pintu bale, deretan barang antik berjajar rapi—pakaian dinas tentara zaman kolonial, buku-buku lawas, kaset pita, hingga uang kuno yang memancarkan cerita dari masa silam. Di balik lapak sederhana beralas MMT bekas, berdiri seorang pria berpeci polka motif putih-hitam, menyapa pengunjung dengan senyum ramah.

Dialah Arif Gunawan, atau akrab disapa Ari, pedagang barang antik asal Mojosongo. Sudah tiga hari ia berjualan di pasar yang digelar setiap akhir pekan itu. Sebelumnya, Ari dikenal sebagai salah satu pedagang tetap di Pasar Klitikan Semanggi, Solo.

“Saya sengaja pakai topi ini biar pengunjung tertarik. Kalau tampil beda, orang jadi penasaran sama dagangan saya,” ujarnya sambil menata koleksi uang kuno di atas meja kecil.

Lapak Ari tak pernah sepi pengunjung. Beberapa datang sekadar melihat-lihat, sebagian lain serius menawar. Koleksi uang kunonya jadi magnet utama. Mulai dari uang kertas seri Presiden Ke-1 RI Soekarno, koin logam zaman Belanda, hingga mata uang asing seperti ringgit Malaysia dan baht Thailand.

Harga yang ditawarkan bervariasi, dari Rp 1.000 hingga Rp 60.000, tergantung kondisi dan kelangkaannya. “Yang paling laku uang kuno. Ada yang buat koleksi, ada juga yang cari buat keperluan syuting atau properti pameran,” katanya.

Kecintaan Ari terhadap barang antik sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA. Ia gemar berburu koleksi di pasar loak, sekadar memuaskan rasa ingin tahu terhadap benda-benda bersejarah. Lama-kelamaan, koleksinya menumpuk hingga akhirnya ia mulai menjual sebagian. Tak disangka, justru dari situlah pintu rezekinya terbuka.

“Dulu cuma iseng, ternyata banyak yang minat. Akhirnya saya putuskan jadi pedagang tetap,” ujarnya mengenang.

Sejak 2014, Ari rutin berangkat ke Pasar Klitikan Semanggi setiap pagi pukul 5.30. Dengan sepeda motor, ia mengangkut dagangan dari rumah ke lapak. Ia biasanya berjualan hingga pukul 09.00, lalu pulang membawa sisa barang yang belum laku.

Meski sempat sepi beberapa bulan terakhir, Pasar Jadoel Balekambang kembali membawa angin segar. Tiga hari terakhir, penjualannya cukup menggembirakan.

Alhamdulillah, bisa nutup kebutuhan harian,” ucapnya tersenyum.

Di sela kesibukannya, Ari tak hanya mengandalkan penjualan langsung. Ia juga aktif berjualan di Facebook dan Instagram, bahkan kerap mengirim pesanan ke luar kota.

“Sekarang pembeli banyak yang dari online. Jadi kalau di pasar sepi, saya tetap bisa jualan,” katanya sambil membungkus uang kertas pesanan pelanggan.

Siang menjelang, suasana taman makin ramai. Di tengah riuh pengunjung yang lalu lalang, Ari tetap tenang menata barang dagangannya satu per satu. Ada semangat tersendiri yang terpancar dari gerak tangannya—seolah setiap benda punya kisah yang ia rawat dengan cinta.

Bagi Ari, berdagang barang antik bukan sekadar soal uang. Ini tentang melestarikan kenangan, menyambung sejarah dari masa lalu ke masa kini.

“Saya kerja sesuai hobi. Bisa cari rezeki, tapi juga masih punya waktu buat keluarga,” tuturnya dengan senyum teduh.

Salah seorang pengunjung, Adi Prasetyo, mengaku sering membeli di lapak Ari karena koleksinya lengkap.

“Kalau uang koin saya sudah punya 48 seri, tinggal nambah yang kertas. Di sini paling komplet,” ujarnya antusias. (alf/bun)

 

 

Editor : fery ardi susanto