RADARSOLO.COM- Mungkin tak banyak yang bisa mengambil keputusan seperti dilakukan Verena Ayu Fia Septiana.
Dari seorang pramugari, warga Tohudan, Colomadu, Karanganyar banting stir berjualan kopi keliling di sekitar Shelter Tugu Boto, Karanganyar.
Apa yang sebenarnya dia cari? Berikut laporan wartawan radarsolo.com Antonius Christian.
Setiap pagi hingga sore, motor gerobak kecil milik Verena terparkir rapi di tepi jalan.
Kondisi ini tentu jauh berbeda saat Verena menjadi pramugari di salah satu maskapai penerbangan.
Ia menghabiskan hampir 10 tahun berkarier sebagai pramugari. Bergabung pada 2014 dan mulai aktif terbang pada 2015.
Kala itu, kehidupan Verena penuh dengan jadwal padat, penerbangan nasional hingga internasional, serta tuntutan profesionalitas tinggi.
Namun segalanya berubah setelah ia menikah.
“Saya pramugari di Lion Air selama kurang lebih 10 tahun. Tapi akhirnya saya putuskan tidak lanjut kontrak karena ikut suami," terang Verena kepada radarsolo.com, Minggu (26/10/2025).
"Suami kerja di Solo, sedangkan saya home base-nya di Jakarta. Kalau terus terbang, berarti harus LDR (long distance relationship). Daripada rumah tangga nanti tidak baik, saya pilih berhenti. Saya percaya rida suami itu di atas segalanya,” beber Verena ditemui radarsolo.com, Minggu (26/10/2025).
Keputusan itu tidak mudah. Dari kehidupan yang serbadinamis dan glamour, Verena harus beradaptasi dengan rutinitas rumah tangga.
Selama hampir dua tahun setelah menikah, dia mengalami masa bingung dan kehilangan arah.
Baca Juga: Misteri Alas Donoloyo di Slogohimo Wonogiri, Banyak Pantangan yang Sangat Berisiko untuk Dilanggar
“Setelah berhenti, awalnya saya senang bisa punya waktu banyak di rumah. Tapi lama-lama bingung juga, enggak ada kegiatan," katanya
"Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai usaha kopi keliling. Awalnya ragu banget, tapi kalau enggak dicoba, kita enggak akan tahu hasilnya seperti apa,” imbuh Verena.
Dengan tekad kuat, ia mulai berkeliling dari satu titik ke titik lain, hingga akhirnya menetap di sekitar Shelter Tugu Boto yang lokasinya hanya sekitar 5 menit dari rumahnya di Tohudan.
“Suami awalnya nyaranin pakai pegawai aja biar saya di rumah. Tapi saya pikir, kalau pakai pegawai, saya malah enggak punya kegiatan. Jadi ya saya jalani sendiri aja. Toh dekat dari rumah, bisa sambil ngobrol sama pelanggan juga,” ucapnya.
Temukan Makna Hidup
Kini, aktivitas berjualan kopi sudah menjadi bagian dari keseharian Verena.
Ia membuka lapak sejak pagi hingga sore hari. Dalam sehari, ia bisa menjual sekitar 22 cup kopi saat cuaca sedang kurang mendukung, misalnya hujan.
Namun saat cuaca cerah dan pelanggan ramai, penjualan bisa mencapai 40 cup per hari.
Bahkan, pernah suatu kali ia mendapat pesanan 100 cup sekaligus dari seorang pelanggan yang mengadakan kegiatan sosial bertajuk Jumat Berkah.
“Senangnya luar biasa waktu itu. Capek sih, tapi puas banget karena hasil kerja keras saya dihargai orang,” ujarnya sambil tertawa.
Menurut Verena, pekerjaan barunya ini ternyata tidak jauh berbeda dari profesi lamanya.
Keduanya sama-sama menuntut keramahan, kesabaran, dan pelayanan terbaik kepada orang lain.
“Sama-sama melayani dan ketemu orang banyak. Bedanya, dulu saya harus tampil rapi, full make-up, dan seragam lengkap. Kalau sekarang ya bebas, mau pakai kaus, celana jeans, sandal, enggak masalah. Yang penting pelanggan puas,” urainya.
Namun lebih dari sekadar perubahan pekerjaan, Verena menemukan makna hidup baru dari keseharian sederhana sebagai penjual kopi keliling.
“Dulu waktu jadi pramugari, saya terbiasa hidup glamor. Barang harus branded, tampil harus sempurna,” tuturnya.
“Tapi setelah jualan kopi ini, saya sadar kalau bahagia itu sederhana. Enggak harus punya tas mahal atau sepatu bagus. Sekarang saya lebih menikmati hidup apa adanya. Kalau diajak susah bisa, diajak sederhana juga bisa. Dan ternyata, justru lebih damai,” imbuh Verena.
FEABaca Juga: Cerita di Balik Dapur Sehat SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo yang Lebih Dipercaya Wali Siswa Dibandingkan MBG
Ia juga merasa pekerjaan barunya membuatnya lebih dekat dengan masyarakat.
Banyak pelanggan yang awalnya asing kini menjadi teman akrab.
Setiap hari, Verena bisa berbagi cerita ringan dengan tukang ojek, pedagang lain, atau pelanggan tetap yang datang membeli kopi.
“Yang dulunya enggak kenal, jadi kenal gara-gara kopi. Kadang mereka cuma mampir buat ngobrol, bukan beli. Tapi saya senang, rasanya kayak punya keluarga baru,” katanya.
Meski perjalanan usahanya masih seumur jagung, Verena merasa sudah cukup bahagia dengan apa yang ia jalani sekarang.
Ia berharap usahanya bisa berkembang, bukan sekadar mencari rezeki, tapi juga memberi inspirasi bagi perempuan lain untuk berani memulai hal baru.
“Kalau saya boleh pesan, jangan takut berubah. Kadang kita harus melepas sesuatu yang nyaman untuk menemukan makna hidup yang lebih dalam," katanya.
"Saya bersyukur, dari pramugari saya bisa belajar disiplin dan sopan santun, dan itu semua berguna juga di usaha ini,” pungkas Verena. (atn)
Editor : Tri wahyu Cahyono